Blog – Virto Office | Sewa Kantor Surabaya

4 Tahapan Lean Market Validation untuk Melakukan Validasi terhadap Ide Startup

Sebuah startup memiliki peluang sukses lebih besar ketika mampu menguji dan melakukan validasi terhadap ide yang dimilikinya. Dengan berinteraksi terhadap orang lain serta menanyakan pertanyaan yang tepat, kamu dapat menguji apakah ide milikmu benar-benar dapat menyelesaikan masalah atau tidak. Selain itu, kamu juga akan mengetahui calon konsumen dan ketersediaan pasar untuk produk yang kamu kembangkan.

Salah satu risiko terbesar dari mengembangkan sebuah produk adalah mendesain sesuatu yang salah. Bayangkan ketika kamu sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan—bahkan tidak sedikit yang telah menghabiskan bertahun-tahun—hanya untuk mengetahui bahwa apa yang kamu kembangkan tidak akan sukses.

Jadi, bagaimana cara yang paling tepat untuk menguji dan memvalidasi ide menggunakan metode Lean dalam bisnis?

Validasi dulu ide yang kamu miliki

Sebelum memutuskan untuk mengembangkan sebuah ide, kamu terlebih dahulu harus melakukan validasi terhadap ide tersebut. Beberapa pertanyaan berikut akan membantumu untuk melakukannya:

  1. Validasi masalah yang dihadapi. Apakah masalah tersebut layak untuk diselesaikan? Apabila calon pengguna tidak berminat atas solusi yang kamu tawarkan, produk yang akan kamu kembangkan mungkin tidak akan menarik.
  2. Validasi pasar untuk menjual produk. Apakah kamu merasa bahwa solusi yang kamu buat akan memiliki tempat di hati masyarakat?
  3. Validasi produk/solusi yang kamu buat. Mungkin masalah tersebut memang nyata dan masyarakat membutuhkannya, tetapi apakah produk yang kamu buat memang dapat menjadi solusi dari permasalahan?
  4. Validasi keinginan untuk membeli dari konsumen. Masalah terbukti ada, permintaan pasar pun besar, juga produk yang kamu buat adalah yang terbaik. Tetapi apakah masyarakat rela untuk merogoh kocek masing-masing demi solusi yang kamu buat?

Apakah kamu perlu menyelesaikan keempat tahap di atas secara berurutan? Jawabannya akan bergantung kepada ide yang kamu jalankan. Beberapa solusi lebih mudah diuji dengan membuat sebuah situs web (validasi permintaan pasar) ketimbang membuat prototipe (validasi produk).

Apabila kamu telah benar-benar yakin telah memenuhi keempat kriteria tersebut, kamu dapat langsung melanjutkan ke tahap pengembangan produk. Bagi kamu yang masih belum yakin, kamu dapat selalu kembali ke tahap validasi untuk mempertajam ide hingga kamu merasa bahwa solusi tersebut siap untuk masuk ke tahap produksi.

Validasi masalah yang dihadapi

Walau poin ini adalah sorotan utama dari ide yang kamu cetuskan, ternyata tidak sedikit pihak yang melewatkan langkah ini. Tidak peduli betapa yakinnya kamu terhadap ide, kamu harus menentukan salah satu masalah yang memang patut diselesaikan dengan solusi yang kamu ciptakan.

Untuk melakukannya, ada beberapa cara seperti:

Dengan meneliti pengguna, kamu dapat menghindari asumsi pribadi yang akan menghambat pengembangan solusi. Ingatlah, kamu bukan pengguna awam karena telah terlalu banyak tahu tentang masalah yang kamu hadapi. Bisa saja solusi yang menurutmu terbaik ternyata justru sebaliknya di mata pengguna.

Sebagai pemilik ide, caramu memandang sebuah permasalahan kini telah bias. Dengan masukan dari pengguna lain, kamu dapat meyakinkan diri bahwa kamu sedang berusaha menyelesaikan permasalahan yang nyata, bukan yang hanya ada dalam pikiranmu.

Ketahui terlebih dahulu pasar tempatmu berjualan nantinya | Sumber: Pexels

Validasi pasar untuk menjual produk

Tak ada gunanya membuat sesuatu yang tidak bisa kamu jual. Ketika kamu telah selesai berbicara dengan beberapa pengguna dan memang masalah tersebut ada, kamu harus meyakini bahwa ada potensi besar dari pasar yang menanti solusi darimu.

Seberapa besar sih pasar yang saya incar? Tergantung dari jenis produk dan bisnis yang kamu miliki. Kamu bebas membidik segmen pasar mana pun, tetapi yakinkan kembali bahwa pasar tersebut memang ada untuk produk atau solusi yang ingin dipasarkan. Kamu tidak ingin membidik pasar menengah ke bawah untuk menjual mobil Ferrari, bukan?

Bagaimana jika saya ingin menciptakan pasar sendiri? Boleh saja, tetapi kamu patut berhati-hati terhadap asumsi yang kamu miliki. Yakinkan kembali bahwa kamu memiliki pengetahuan yang mendalam terhadap pasar yang ingin kamu ciptakan.

Berikut ini adalah beberapa tool yang dapat kamu gunakan:

Bagaimana jika saya tidak dapat menemukan kompetitor? Kemungkinannya ada dua, bisa jadi memang tidak ada bisnis yang bermain di ranah tersebut (kemungkinannya kecil) atau memang kamu yang belum cukup dalam melakukan penelitian.

Setelah kamu berhasil melakukan validasi terhadap pasar, kini saatnya melakukan bagian yang paling menyenangkan: validasi produk.

Sebuah prototipe tidak perlu menjadi sebuah hal yang kompleks | Sumber: Wikimedia

Validasi produk/solusi yang kamu buat

Hanya ada satu cara yang dapat kamu lakukan untuk memastikan bahwa produk atau solusi yang kamu buat memang dapat menyelesaikan masalah, yaitu membuat sebuah prototipe.

Kamu tidak perlu menjadi seorang engineer untuk membuat prototipe ini. Kamu hanya perlu mengetahui seluk-beluk tentang produk atau solusi yang kamu buat. Untuk mengembangkannya, kamu dapat mengajak seseorang untuk menjadi seorang CTO, atau bahkan mempekerjakan seorang freelancer untuk menguji validitas dari produk atau solusi tersebut.

Ketika kamu telah berhasil membuat sebuah prototipe, kamu harus mengujinya dengan bantuan pengguna. Ini dilakukan untuk mengumpulkan feedback dan mempelajari user behavior ketika sedang menggunakan solusi tersebut. Kembali lagi, kamu harus yakin betul bahwa produk atau solusi yang kamu rancang memang dapat menyelesaikan masalah secara tepat.

Setelah rampung, prototipe dapat langsung diujikan untuk menentukan validitas sebuah produk | Sumber: Flickr

Uji prototipe dengan pengguna

Sebuah prototipe yang kamu sukai belum berarti telah valid di mata pengguna. Agar produk atau solusi dapat diterima dengan baik, kamu harus mengumpulkan feedback dari pengguna.

Fase ini dapat menjadi hal yang sulit, terutama apabila kamu belum pernah melakukannya. Agar kamu mendapatkan pengguna yang bersedia untuk menjalankan pengujian, kamu harus berani untuk keluar dari lingkunganmu dan aktif mencari mereka. Bagi sebagian orang, mungkin upaya ini lebih sulit dari sekadar berada di belakang meja dan bermain dengan hipotesis.

Ketika kamu berhasil melakukan pengujian, kamu akan melihat bahwa proses ini tidak hanya menghasilkan insight yang berharga, tetapi juga menyenangkan untuk dilakukan.

Apabila kamu dapat menemukan orang yang tepat sebagai subjek pengujian, ini adalah permulaan yang baik. Tetapi apabila kamu tidak dapat menemukannya, kamu dapat meminta siapa saja untuk melakukan tes. Walaupun hal ini akan berpotensi menimbulkan hasil yang salah, namun apabila dilakukan dengan tepat, hal ini akan mempermudahmu untuk melakukan user testing.

Tujuan utama melakukan validasi produk adalah untuk meyakinkan kembali bahwa produk yang kamu buat dapat menyelesaikan masalah dengan cara paling efektif. Mungkin pada awalnya kamu tidak dapat melakukan pengujian dengan sempurna, tetapi seiring berjalannya waktu, kemampuanmu untuk menguji akan menentukan kualitas akhir produk.

Setelah kamu berhasil melakukan validasi produk atau solusi, kini saatnya menuju tahap akhir dari proses validasi.

Masalah, pasar, dan produk telah teridentifikasi. Kini giliran kamu mengetahui keinginan membeli seorang pengguna | Sumber: Pexels

Validasi keinginan untuk membeli dari konsumen

Ada banyak cara untuk memvalidasi hal ini, tetapi tantangan terbesarnya adalah kita tidak dapat serta-merta mempercayai kata pengguna. Bagi orang-orang, terutama mereka yang mengenal kamu, mereka akan dengan mudah mengatakan, “Oh, bagus kok! Saya pasti beli!” Tetapi ketika diminta untuk benar-benar melakukannya, kenyataan bisa berkata lain.

Untuk memulai tahap ini, kamu dapat membuat sebuah situs web untuk melakukan validasi. Ada beberapa tool yang dapat kamu gunakan, antara lain:

Salah satu contoh situs web yang dibuat menggunakan Squarespace

Ada beberapa elemen yang harus kamu sertakan di dalam situs web validasi, seperti:

Setelah situs validasi ini siap untuk berjalan, kamu harus mengarahkan traffic untuk mengakses situs ini. Salah satu cara terbaik adalah menggunakan jasa Facebook Ads dan Google AdWords.

Kedua layanan berbayar tersebut mungkin akan sedikit memberatkanmu dari segi biaya, tetapi risiko yang akan kamu ambil akan semakin kecil apabila kamu telah mendapatkan traffic yang lebih terarah ke dalam situs web validasi tersebut.

Seberapapun kompleksitasnya, sebuah masalah tetap harus kamu identifikasi sebelum diselesaikan | Sumber: Pixabay

Adapun beberapa metrik kunci yang harus kamu perhatikan, antara lain:

Untuk dapat mengetahui informasi lebih dalam, kamu juga dapat melakukan beberapa hal berikut ini:


Melakukan validasi dari sebuah produk atau solusi memang tidak mudah. Bahkan ketika kamu telah berhasil melakukannya, belum tentu produk atau solusi yang kamu kembangkan dapat dengan mudahnya mendulang rupiah. Validasi hanyalah langkah awal dari kesuksesan produk yang kamu kembangkan.

Sumber : Tech in Asia

Exit mobile version