Apakah Kesuksesan WeChat di Cina Bisa Ditiru di Indonesia?

0
707

Bicara mengenai perkembangan pesat Tencent hingga masuk ke dalam sepuluh perusahaan terkaya di dunia tentu tidak bisa lepas dari WeChat. Layanan pesan instan buatan Tencent tersebut masuk dalam lima besar aplikasi chatting terbesar di dunia berdasarkan jumlah pengguna aktif dengan 846 juta pengguna pada Januari 2017, mayoritas berasal dari Cina.

Sejak hadir pada 2011 lalu, WeChat terus mendapatkan penambahan fitur dari Tencent. Kini WeChat menjadi layanan serbaguna yang dapat membuat penggunanya tidak perlu memasang aplikasi lain untuk memanfaatkan smartphone masing-masing mereka. Beragam fungsi, mulai dari sarana komunikasi perusahaan, edit foto, hingga pengganti transaksi tunai, semakin banyak diadopsi dalam kehidupan sehari-hari para penggunanya.

Bagaimana Tencent meraih kesuksesan tersebut? Apa strategi yang mereka jalankan? Apakah hal yang sama bisa diterapkan di Indonesia? Untuk mengetahui lebih lanjut, ada baiknya kita sedikit menelisik sumber pendapatan WeChat pada saat ini.

Bagaimana WeChat melakukan monetisasi?

Chinese Yuan | Photo

Penghasilan terbesar yang diperoleh dari WeChat berasal dari layanan bernilai tambah yang terikat ke aplikasi tersebut. Sebagian besar dari layanan bernilai tambah itu berkaitan erat dengan beragam video game yang diterbitkan Tencent, serta terhubung ke dalam ekosistem pembayaran miliknya dalam WeChat.

Berdasarkan laporan keuangan kuartalan yang diterbitkan Tencent pada Agustus 2017 lalu, mereka mencetak laba sekitar CN¥ 18,2 miliar (sekitar Rp37 triliun) selama kuartal kedua 2017. Sebagian besar laba tersebut adalah kontribusi dari bisnis penerbitan game mereka yang menghasilkan pendapatan kotor CN¥28,4 miliar (sekitar Rp58 triliun).

Penghasilan dari bisnis game Tencent merupakan buah dari penjualan beragam item virtual, akses khusus ke fitur terkait video game, dan sebagainya. Para pemain game melakukan pembayaran lewat fitur uang digital WeChat Pay.

Selain sarana pembayaran untuk transaksi video game, WeChat juga berfungsi sebagai media sosial tempat para pedagang online atau pemegang merek untuk beriklan, seperti yang terdapat dalam Facebook. Dengan jumlah pengguna yang sangat signifikan di Cina, fitur iklan di WeChat merupakan magnet yang kuat bagi para pengiklan untuk menawarkan produk masing-masing.

Para pedagang online ataupun pemegang merek juga memiliki alasan lain untuk beriklan di WeChat, yaitu karena Tencent menyediakan sarana berjualan serta solusi pembayaran secara terpadu. Solusi pembayaran tersebut tak hanya bisa dipakai untuk berbelanja, tapi juga mentransfer dana ke sesama pengguna, menarik uang tunai, melunasi tagihan bulanan, membayar restoran, dan lain sebagainya.

Dengan segala kemudahan yang ada, tidak mengherankan apabila banyak masyarakat Cina menggunakan WeChat secara kontinyu dan cukup loyal terhadapnya.

Kondisi di Indonesia

Bundaran HI | Photo

Hampir mirip dengan Cina, masyarakat Indonesia juga memiliki beberapa kemiripan yang membuat potensinya menjadi sangat besar. Beberapa kemiripan tersebut antara lain:

  1. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar seperti Cina, yaitu berada di urutan keempat dengan lebih dari 261 juta penduduk per Juli 2017.
  2. Persebaran smartphone di Indonesia makin meluas. Kemenkominfo memperkirakan bahwa hampir setengah jumlah penduduk Indonesia, yaitu sebesar lebih dari seratus juta orang, akan memiliki smartphone.
  3. Masyarakat Indonesia menghabiskan hampir tiga jam setiap hari untuk mengakses media sosial. Bahkan, media sosial terpopuler di Indonesia adalah aplikasi chatting WhatsApp.
  4. Game mobile memiliki jumlah pemain paling banyak dibanding platform lain di Indonesia, dengan jumlah pemain pada tahun 2017 mencapai 58,4 juta orang dibanding PC dan console sebesar 18 juta orang menurut Statista.

Beberapa contoh di atas menunjukkan betapa besar potensi yang dimiliki perusahaan di Indonesia untuk meniru kesuksesan WeChat. Namun, perjalanan untuk replikasi tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Solusi pembayaran: katalis dan perekat

Credit Card on Hand | Photo

Salah satu faktor penting mengapa banyak masyarakat di Cina setia menggunakan WeChat adalah berkat solusi pembayaran yang ditawarkan Tencent. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, solusi pembayaran tersebut mampu mengakomodasi beragam transaksi yang biasa dilakukan para penggunanya sehari-hari.

Para perusahaan atau startup di Indonesia juga memiliki peluang besar untuk menggarap layanan pembayaran serupa seperti yang diterapkan Tencent. Hal ini karena tingkat adopsi masyarakat Indonesia terhadap uang digital tercatat masih rendah, sehingga terdapat ruang yang luas untuk mengembangkan bisnis tersebut.

Terlebih lagi, berdasarkan laporan dari Bank Dunia tahun 2014, tingkat penetrasi kartu kredit sebagai salah satu metode pembayaran digital di Indonesia masih sangat rendah, bahkan berada pada posisi terakhir di antara negara-negara Asia Tenggara lain. Kebanyakan masyarakat dalam negeri masih cenderung menggunakan uang tunai untuk bertransaksi, serta memiliki akses terbatas ke layanan perbankan.

Peluang inilah yang belakangan ini menjadi “lahan basah” yang diperebutkan oleh berbagai institusi perbankan konvensional, baik swasta ataupun BUMN, hingga startup fintech. Bahkan, startup fintech memegang peranan penting dalam perkembangan layanan pembayaran digital di nusantara.

Usaha replikasi di Indonesia sejauh ini

GO-JEK vs Tokopedia | Collage

Peluang tampak terbuka lebar, namun sejauh ini belum ada yang benar-benar bisa mereplikasi keberhasilan WeChat di Cina. Bahkan, Tencent yang telah merilis WeChat di seluruh dunia pun sejauh ini belum bisa menaklukkan pasar internasional, termasuk Indonesia.

Gagal menggaet pengguna WeChat di Indonesia, Tencent lantas berinvestasi pada beragam perusahaan teknologi di dalam negeri untuk memperluas pasarnya. Salah satu investasi Tencent yang berpotensi untuk mereplikasi kesuksesannya di Cina adalah pendanaannya pada GO-JEK.

read also

BACA JUGA

Lima aplikasi mobile yang berpotensi mengikuti kesuksesan WeChat

Berawal dari layanan transportasi berbasis aplikasi online, kini GO-JEK menjelma sebagai sebuah platform untuk mendapatkan beragam jasa dan produk, seperti memesan makanan, membeli karcis bioskop, hingga melakukan top up pulsa seluler. Tidak berhenti di situ, GO-JEK juga tengah gencar mempromosikan solusi pembayaran digital miliknya, yaitu GO-PAY, dengan beragam promosi menarik.

GO-PAY merupakan usaha GO-JEK untuk meningkatkan daya rekat aplikasinya ke pelanggan. Fitur tersebut tidak hanya bisa digunakan untuk membayar beragam layanan di GO-JEK, tapi juga untuk mentransfer uang serta menarik uang tunai di masa depan.

Bahkan, Tencent bukan satu-satunya perusahaan yang mendukung startup lokal untuk mereplikasi kesuksesan solusi pembayaran digital seperti yang dilakukan WeChat di Cina. Alibaba yang merupakan pesaing Tencent berinvestasi pada Tokopedia, platform e-commerce yang juga melayani pembayaran beragam hal, mulai dari tagihan listrik hingga tiket kereta api, dan belakangan meluncurkan produk uang digital bernama TokoCash.

Baik GO-JEK dan Tokopedia merupakan startup dengan status Unicorn di Indonesia. Masing-masing memiliki jumlah pengguna aktif harian berjumlah jutaan orang. Dengan dukungan dari raksasa perusahaan teknologi Cina, keduanya berpeluang besar untuk mereplikasi keberhasilan layanan pembayaran digital, seperti yang dialami WeChat di Cina, di tanah air.

Tantangan ke depan

Bank Indonesia - BI Fintech Office | Photo

Tentunya masih ada beragam tantangan yang harus dipecahkan para penyedia solusi pembayaran digital agar meraih kesuksesan. Menurut mantan CEO PT Dimo Pay Indonesia Brata Rafly, beberapa problem utama yang tengah dihadapi para pelaku industri adalah bagaimana menjangkau para unbanked, melakukan edukasi tentang transaksi nontunai. Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia selaku regulator juga menyebutkan tantangan terkait regulasi pemerintah.

Walaupun persebaran smartphone yang makin meluas secara tidak langsung ikut memecahkan masalah keterjangkauan layanan pembayaran digital, bukan berarti kebiasaan masyarakat yang telah nyaman melakukan transaksi tunai akan langsung berubah. Masyarakat masih harus diyakinkan bahwa solusi pembayaran tersebut aman, mudah digunakan, serta nyaman menggunakannya setiap hari.

Selain itu, solusi pembayaran juga merupakan bisnis yang dijaga ketat oleh pemerintah karena menyangkut hal sensitif (uang) serta berdampak secara luas. Bank Indonesia selaku regulator berwenang tampak mengambil langkah yang sangat prudensial. Beberapa startup yang mengajukan izin penyelenggaraan uang digital, termasuk Tokopedia, terpaksa membekukan produk uang digital miliknya sambil menunggu izin resmi keluar dari Bank Indonesia.

Meski masih ada beberapa tantangan, sejauh ini replikasi WeChat yang sukses menerapkan solusi pembayaran digital untuk meningkatkan daya rekat dan pada akhirnya mendongkrak pendapatan dari beragam lini bisnis lain miliknya tampak sangat mungkin terjadi di Indonesia.

Sebagai contoh, GO-JEK mengklaim bahwa para pengguna fitur GO-PAY miliknya terus meningkat, hingga lebih dari setengah pemesanan layanan dalam platformnya dibayar secara nontunai per Agustus 2017. Nadiem Makarim selaku Founder dan CEO GO-JEK juga menyebutkan bahwa kerekatan pengguna GO-JEK meningkat berkat GO-PAY.

Dengan tingkat penetrasi smartphone dan jaringan seluler yang makin meluas dari tahun ke tahun, serta dukungan pemerintah sendiri yang menerapkan kampanye Gerakan Nasional Nontunai, tampaknya kita boleh berharap suatu saat nanti akan muncul aplikasi serbaguna serupa WeChat di Indonesia.

Sumber : Tech in Asia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here