Facebook Gunakan AI untuk Menekan Upaya Bunuh Diri

0
110

Ikhtisar

  • Faceboook memanfaatkan machine learning untuk menganalisis pola konten dan siaran langsung dari pengguna yang menyiratkan pesan berpotensi bunuh diri.
  • Sistem AI Facebook ini akan terhubung dengan orang terdekat sampai lembaga bantuan kejiwaan.

VP of Product Management Facebook Guy Rosen pada 27 November 2017 mengumumkan teknologi terbaru platform media sosial tersebut, yaitu AI untuk mencegah upaya bunuh diri. Dengan menganalisis semua konten yang diunggah setiap pengguna Facebook, AI tersebut diklaim dapat mengidentifikasi para pengguna yang membutuhkan bantuan dengan lebih cepat dan akurat, sehingga pada akhirnya menekan kasus bunuh diri.

Kehadiran AI ini melengkapi salah satu fitur Facebook yang memungkinkan para penggunanya melaporkan upaya bunuh diri. Semua pengguna tetap dapat berkontribusi membantu Facebook dengan memanfaatkan tombol pengaduan konten.

Rosen menjabarkan tiga langkah yang diimplementasikan Facebook untuk mengurangi angka kasus bunuh diri. Ketiga upaya tersebut adalah:

  • Memanfaatkan machine learning guna menganalisis pola dari konten atau siaran langsung yang menyiratkan bahwa pengguna tersebut berpotensi mengakhiri nyawanya sendiri,
  • Peningkatan kemampuan mengidentifikasi pihak pemberi bantuan pertama yang tepat ke pengguna itu,
  • Menambah jumlah pengawas dari tim Community Operations Facebook guna merespons laporan kasus melukai diri sendiri.

Facebook pertama kali mengujicobakan fitur pencegahan upaya bunuh diri tersebut di Amerika Serikat sejak Maret 2017. Fitur tersebut kini mulai diimplementasikan di seluruh dunia, kecuali di Eropa yang memiliki aturan ketat mengenai profiling data pengguna.

Lightbulb and Text Balloon | Featured

Cara AI Facebook bekerja

AI milik Facebook mampu menganalisis pola pada semua konten yang diunggah para penggunanya. Analisis tersebut akan mengidentifikasi kecenderungan seseorang untuk melukai dirinya sendiri. “Kami terus menyempurnakan teknologi ini untuk meningkatkan akurasi laporan yang akan diterima oleh tim pengawas kami,” tulis Rosen dalam blog resmi Facebook.

Selain itu, AI tersebut juga mampu menangkap sinyal dari teks pada konten atau kolom komentar pada suatu unggahan. Komentar seperti “apa kamu baik-baik saja?” atau “apa bisa saya bantu?” pada konten pengguna adalah beberapa indikator kuat yang akan dipantau oleh AI.

Semua hal tersebut akan diproses AI untuk kemudian diteruskan dalam bentuk laporan ke tim pengawas Facebook. Tak hanya meneruskan laporan, AI juga bakal memberikan skala prioritas kepada semua laporan yang diteruskan ke tim pengawas, sehingga diharapkan Facebook dapat merespons dengan tepat sesuai tingkat urgensinya.

Kerja tim pengawas Facebook didukung dengan otomatisasi sistem yang dapat membantu mereka mengontak pihak pemberi bantuan secara tepat. PIhak yang akan dikontak bisa beraneka ragam, mulai dari orang yang memiliki hubungan terdekat dengan pengguna, hingga lembaga bantuan kejiwaan seperti National Suicide Prevention Lifeline di Amerika Serikat serta puluhan lembaga lain di seluruh dunia.

Ini merupakan upaya kami untuk memangkas waktu di setiap proses upaya pencegahan bunuh diri, terutama pada Facebook Live. Bahkan ada beberapa kejadian di mana pemberi bantuan tiba saat pengguna masih menyiarkan (upaya bunuh dirinya) secara langsung.

Guy Rosen, VP of Product Management Facebook

Facebook Indonesia | Photo

Kasus bunuh diri di media sosial

Upaya bunuh diri yang berkaitan dengan media sosial merupakan problem yang tengah dihadapi Facebook dan penyelenggara platform lainnya. Tak hanya di Amerika Serikat, kasus serupa juga terjadi di Indonesia, seperti pada Maret 2017 lalu.

Guna mencegah upaya bunuh diri terjadi, para psikolog dan sejumlah lembaga kejiwaan mengemukakan pentingnya berkomunikasi dengan pelaku, tidak membiarkan dirinya sendirian, serta mendapatkan pendampingan dari orang yang tepat. Kementerian Kesehatan pun telah menyatakan bahwa nomor darurat 119 bisa dihubungi guna membantu pencegahan usaha bunuh diri.

Facebook mengembangkan AI tersebut sesuai masukan dari berbagai pihak, mulai dari para psikolog, lembaga kejiwaan, hingga orang-orang yang pernah berpikir atau bahkan melakukan upaya bunuh diri. Dengan teknologi yang makin canggih serta empati dari seluruh anggota masyarakat, diharapkan jumlah kejadian bunuh diri dapat terus ditekan.

Sumber : Tech in Asia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here