GoPro: Akan Tenggelam atau Bisa Diselamatkan?

0
335

Pada awal Februari 2018, GoPro merilis laporan keuangan mereka untuk periode kuartal keempat 2017. Pendapatan sebesar US$334 juta (sekitar Rp4,5 triliun) merupakan peningkatan kecil dari kuartal sebelumnya, namun masih belum mencapai jumlah US$470 juta (sekitar Rp6,4 triliun) yang mereka prediksikan pada November 2017 lalu.

Berita tersebut hanya merupakan satu dari berbagai kesulitan yang sedang melanda GoPro. Saham perusahaan action camera tersebut telah jatuh sebesar 27,7 persen di Januari 2018. CEO GoPro Nick Woodman juga kembali merencanakan pemecatan besar-besaran selama 2018 untuk mengurangi jumlah karyawan menjadi kurang dari seribu orang saja. Secara total, valuasi pasar perusahaan tersebut telah terjun bebas menjadi sekitar US$1 miliar (sekitar Rp13 triliun) dari angka US$3 miliar (sekitar Rp41 triliun) pada tahun 2014.

Kemunduran tersebut sangat jauh dari potensi awal GoPro sebagai perusahaan pertama yang menembus pasar action camera.

Berawal dari hobi

Nick Woodman, Founder dan CEO GoPro

Sumber: The Daily Beast

Perjalanan GoPro bermula pada tahun 2002, ketika seorang peselancar bernama Nick Woodman menyadari  kebanyakan kamera pada masa itu masih terlalu berat dan tentunya sulit untuk  merekam aksi selancarnya. Seperti banyak ide startup  lainnya, GoPro lahir dengan alasan yang simpel; Woodman menemukan suatu masalah, dan menginginkan suatu produk yang dapat memecahkan masalah tersebut.

Ide pertama Woodman adalah aksesori yang dapat ia gunakan untuk mengikatkan kamera ke tubuhnya. Namun, Woodman akhirnya menyadari bahwa aksesori saja tidak cukup. Ia membutuhkan kamera yang – selain berkualitas – juga cukup ringan dan tahan banting untuk dibawa ke medan atau aktivitas yang ekstrem.

Fokus pertama Woodman adalah merancang dan menyempurnakan produknya. Prototipe pertama GoPro dibuat dari modifikasi desain kamera model 35mm buatan Cina. Hasilnya, yaitu GoPro Hero 35mm, disebut sebagai action cam pertama yang dijual di pasaran.

Woodman pertama kali menjual Hero 35mm  di expo olahraga, toko alat selancar dan saluran belanja di televisi, yang memberikannya keuntungan sebesar US$350 ribu (sekitar Rp4,7 miliar) pada tahun 2005. Melalui metode tersebut serta suntikan dana dari berbagai investor seperti orang tua Woodman sendiri, GoPro terus tumbuh secara organik.

Lima tahun kemudian, produk GoPro telah dijual bebas di retailer seperti Best Buy. Empat tahun kemudian, GoPro melaksanakan penawaran umum perdana dan resmi IPO.

16 Tahun GoPro | Infografis

Sejak itu, GoPro terus meningkatkan dominasi pasar mereka hingga poin di mana action camera dan GoPro telah menjadi sinonim bagi banyak orang. Produk action cam yang saat ini dipasarkan GoPro antara lain:

Perjuangan mempertahankan pasar

Namun, kesuksesan GoPro tidak berjalan tanpa hambatan. Selama dua tahun terakhir, mereka mengalami berbagai kesulitan sebagai akibat dari penurunan penjualan yang konsisten serta berbagai strategi bisnis yang tidak mencapai ekspektasi.

Alasan Kegagalan GoPro | Ilustrasi

Jika dibandingkan dengan tahun 2015, total penjualan unit kamera GoPro cenderung menurun, yang pada awalnya lebih dari lima juta unit hingga menjadi sekitar empat juta unit pada tahun 2016. Pangsa pasar GoPro di bisnis action cam juga menurun sejak 2016 dengan kehadiran produsen lain seperti Xiaomi, Garmin dan Sony.

Salah satu cara GoPro untuk meningkatkan penjualan adalah pemotongan harga. Hero6 yang pada awalnya dibanderol dengan harga US$499 (sekitar Rp6,7 juta) sebelum diturunkan menjadi US$399 (sekitar Rp5,3 juta). GoPro juga melakukan pemotongan harga serupa untuk produk Hero5 Black dan Hero5 Session.

Penurunan harga dipandang sebagai kebijakan yang riskan dalam bisnis dikarenakan potensi efek negatifnya; produsen terkesan kurang percaya terhadap produk mereka sendiri. Namun jika melihat situasi GoPro, logis jika mereka ingin mengambil risiko untuk meningkatkan penjualan dan bersaing dengan kompetitor. Sebagai perbandingan, Garmin Virb Ultra 30 yang disebut sebagai tandingan Hero6 hanya dijual seharga US$399 (sekitar Rp5,3 juta).

Selain itu, kamera smartphone yang semakin canggih dan kemudahan mengunggah konten video ke platform seperti YouTube, Vine dan Instagram membuatnya dapat menjadi opsi lebih praktis bagi pengguna kasual. Smartphone juga memiliki pasar yang lebih berkelanjutan dibanding action cam – jika pengguna action cam sudah memiliki satu kamera, maka pengguna kasual cenderung tidak akan membeli model yang lebih baru.

Menjual gaya hidup

Langkah yang diambil GoPro untuk mengatasi masalah tersebut adalah diversifikasi pasar melalui “GoPro lifestyle” – upaya untuk mengkapitalisasi konten yang dibuat dengan kamera mereka untuk menciptakan brand awareness. Dengan membuat  brand mereka menjadi viral, GoPro berharap dapat menggunakan publisitas tersebut sebagai momentum untuk mengiklankan produk lain.

Perluasan pasar menjadi salah satu alasan kuat bagi GoPro agar bisa terus bertahan dengan kondisi penjualan yang menurun.. Selain potensi dampak negatif smartphone bagi pasar pengguna kasual, produk kompetitor dengan kualitas seimbang namun harga lebih murah seperti Xiaomi Yi dan Garmin Virb juga berpotensi mengancam dominasi mereka di pasar action cam.

Meningkatkan brand awareness untuk berekspansi ke komoditas lain dapat menjadi solusi untuk menghindari persaingan.

,

Namun, upaya ekspansi pasar dari hardware menuju media hiburan seperti konten video dan streaming tidak menuai kesuksesan. Divisi hiburan mereka harus dibubarkan pada akhir tahun 2016 setelah kerja sama dengan platform seperti YouTube dan Hulu tidak mendapatkan jumlah audiens yang sesuai ekspektasi.

Pada bulan November 2016, GoPro mulai jatuh, secara harfiah. Sejumlah pengguna drone Karma buatan GoPro melaporkan malfungsi baterai yang mengakibatkan drone tersebut berjatuhan dari langit ketika dioperasikan. GoPro terpaksa mengadakan penarikan produk besar-besaran sebelum pada akhirnya juga membubarkan divisi drone mereka pada awal tahun 2018.

Jika dilihat dari nasib divisi hiburan dan drone mereka, investasi GoPro dalam komoditas selain action cam belum membuahkan hasil. Satu hal yang pasti adalah bahwa GoPro harus mulai mengevaluasi opsi lain jika ingin mengubah nasib mereka.

Langkah selanjutnya bagi GoPro

Sejauh ini, GoPro tampak sedang mempertimbangkan transisi menjadi perusahaan yang lebih kecil dan terfokus kepada action cam, melalui opsi seperti peluncuran produk action cam baru di tahun 2018 serta menjual perusahaannya ke perusahaan yang lebih besar.

Merger dan akuisisi sudah tidak asing dalam industri teknologi, dan banyak di antaranya yang berakhir sama-sama menguntungkan. PayPal, contohnya, menikmati pertumbuhan nilai perusahaan sebesar 3.033 persen setelah tiga belas tahun sebagai akuisisi eBay.

Namun, masih terdapat prospek bagi GoPro untuk kembali menuju profitabilitas sebagai perusahaan independen. Tractica memproyeksikan bahwa pasar action cam akan mengalami kebangkitan selama beberapa tahun ke depan. Itu dapat menjadi momentum baru bagi GoPro, tentunya dengan syarat mereka mengeluarkan inovasi baru dengan kualitas dan harga yang kompetitif.

Sumber : Tech in Asia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here