Kamu Ingin Sukses? Mengejar Passion Saja Tak Cukup!

0
1012
Ikhtisar
  • Seorang pengusaha sukses bernama Mark Cuban dari Amerika Serikat beranggapan bahwa mengejar passion adalah salah satu saran yang sangat buruk.
  • Cuban berpendapat, lebih baik mengejar effort (usaha) daripada passion. Asah terus keahlianmu agar menjadi seorang expert yang pada akhirnya akan mendatangkan uang.
  • Pendapat Cuban tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Apa yang ia katakan bisa benar dalam sejumlah kasus, meski belum tentu bisa diaplikasikan pada semua kondisi.
  • Akan lebih baik jika kamu mengejar sesuatu yang bukan hanya disukai, tapi juga mau kamu curahkan waktu untuk terus meningkatkan keahlianmu.

Kamu yang penggemar bola basket mungkin tak asing dengan nama Mark Cuban. Pria ini merupakan pemilik tim NBA Dallas Mavericks, sekaligus pengusaha di bidang teknologi dan hiburan. Stasiun TV AXS dan perusahaan software MicroSolutions adalah beberapa bisnis yang lahir dari tangannya.

Pada Februari 2018 lalu, Mark Cuban menjadi narasumber dalam Day One: Insights for Entrepreneur—sebuah program milik Amazon yang mengumpulkan para tokoh sukses untuk berbagi pengalaman kepada pengusaha pemula. Di sana ia melontarkan pernyataan yang cukup kontroversial.

Salah satu kebohongan besar dalam hidup adalah mengejar passion.

Mark Cuban, Owner of Dallas Mavericks

Menurut Mark Cuban, mengejar passion adalah ajakan yang sangat buruk. Ini bertolak belakang dengan motivasi yang sering kita dengar. Mengapa Mark Cuban menganggap passion sebuah kebohongan? Apa yang harus kita lakukan sebagai gantinya?


Passion belum tentu sejalan dengan keahlian

Alasan Mark Cuban tidak setuju dengan passion sebetulnya sederhana: apa yang kita sukai belum tentu sesuai dengan keahlian kita. Pendapat ini muncul dari pengalaman hidup Cuban sendiri.

Mark Cuban | Photo 1

Mark Cuban | Sumber Gambar: Wikimedia Commons

Ketika masih muda, Cuban sangat ingin menjadi pemain bisbol. Ia kemudian menyadari bahwa dirinya tidak mampu melempar bola dengan cepat. Cuban juga bercita-cita menjadi pebasket profesional, tapi ia tidak mampu melompat tinggi.

Kemampuan fisik Cuban ada di bawah rata-rata standar atlet olahraga. Menyadari hal ini, ia memutuskan untuk fokus pada hal yang paling bisa ia lakukan, yaitu berbisnis.

Kejarlah sesuatu yang kamu rela menghabiskan waktu dan tenaga untuk melakukannya terus-menerus.

Seperti Cuban, kamu bisa saja berminat pada banyak hal. Tapi usaha serta waktu yang kamu dedikasikan pada minat itu belum tentu setara. Karena itu, nasihat dari Mark Cuban bukanlah mengejar passion, tapi mengejar effort (usaha).

Jangan mengejar sesuatu yang kamu suka, tapi kejarlah sesuatu yang kamu rela menghabiskan waktu dan tenaga untuk melakukannya terus-menerus. Karena bila kamu berdedikasi, dalam dirimu akan tumbuh sebuah keahlian, dan keahlian bisa mendatangkan uang.

Menjadi ahli dalam suatu bidang akan membuatmu merasa senang. Kamu sadar bisa mengerjakan sesuatu dengan baik, sehingga kamu terdorong untuk lebih mendedikasikan diri ke bidang itu. Keahlianmu semakin tumbuh, lalu tanpa sadar kamu sudah layak disebut expert. Sukses hanyalah kelanjutan yang akan datang secara alami setelahnya.


Ada “Faktor X” dalam kehidupan kita

Kamu sah-sah saja bila tidak setuju dengan pendapat Mark Cuban. Lagi pula banyak orang percaya bahwa bakat bukan faktor penentu kesuksesan. Kata Albert Einstein, “Jenius adalah 1 persen bakat dan 99 persen kerja keras.” Meski tanpa bakat, seseorang bisa sukses dalam bidang apa pun asal ia berusaha.

Tapi berkata bahwa bakat tidak punya peran sama sekali itu juga terlalu naif. Pada kenyataannya, ada orang-orang yang berusaha sama kerasnya namun hasilnya berbeda. Bahkan dua anak kembar, tumbuh di lingkungan sama, sekolah di tempat yang sama, ujung-ujungnya ketika dewasa ternyata nasibnya berbeda.

Usain Bolt | Photo 1

Apakah kesuksesan Usain Bolt hasil dari kerja keras, atau bakat? | Sumber Gambar: Wikimedia Commons

Ada faktor internal dalam diri kita yang tak bisa kita kendalikan, bahkan mungkin sulit dijelaskan, namun berperan dalam hidup (walau hanya satu persen!). Sebut saja “Faktor X”. Sebagai contoh, menurutmu mengapa atlet-atlet lari dan bola basket kebanyakan adalah orang kulit hitam? Kenapa jawara olahraga renang biasanya berkulit putih?

DNA dalam diri kita menentukan apa yang ada dalam tubuh kita secara fisiologis, dan perbedaan-perbedaan ini bisa memberikan kelebihan atau kekurangan yang tak dimiliki semua orang. Secara fisika bentuk tubuh orang kulit hitam memang lebih mendukung untuk olahraga lari, jadi wajar bila mereka sukses di bidang itu.

Dengan tingkat usaha yang sama, kesuksesannya ternyata berbeda.

Tentu saja bukan berarti mereka sukses tanpa usaha, mereka tetap berusaha. Tapi karena ada “Faktor X” tadi, mereka bisa lebih unggul dari pesaingnya.

Dengan tingkat usaha yang sama, kesuksesannya ternyata berbeda. Ini baru faktor internal, belum termasuk faktor-faktor eksternal seperti keberuntungan, tren pasar, bahkan kondisi geografis sekitar kita.


Pengaruh bakat lebih kecil di aktivitas mental

Cara pandang Mark Cuban tentang passion bisa jadi muncul karena ia berasal dari dunia olahraga. Dalam dunia olahraga, keahlian punya kaitan erat dengan kondisi fisik, dan kondisi fisik sangat dipengaruhi oleh “Faktor X”. Kalau kamu punya postur bongsor seperti Yao Ming, mengikuti passion di bidang tari balet mungkin bukan ide bagus.

Tapi bila kita berbicara tentang aktivitas mental, maka peranan bakat punya porsi yang lebih kecil. Profesor Anders Ericsson dari Florida State University telah meneliti hal ini sejak tahun 1970-an, dan ia menyimpulkan bahwa apa yang disebut sebagai “bakat” itu sebetulnya adalah hasil dari suatu aktivitas latihan, baik sengaja atau tak sengaja.

Malcolm Gladwell memopulerkan ide ini lebih luas dalam bukunya yang berjudul Outliers: The Story of Success. Ia mengklaim bahwa siapa pun yang mendedikasikan 10.000 jam waktu untuk berlatih suatu hal, pasti akan menjadi seorang pakar dan meraih sukses.

Whiplash | Screenshot 1

Whiplash adalah film yang sangat menginspirasi pentingnya kerja keras | Sumber Gambar: Los Angeles Film School

Sekadar berlatih untuk waktu lama saja belum cukup. Bila latihanmu hanya mengulang-ulang hal yang sama, kamu tidak akan mengalami peningkatan. Bahkan bila berlatih terlalu banyak, kondisi fisik dan psikismu bisa jatuh. Ini adalah contoh kasus di mana kerasnya usaha tidak berbanding lurus dengan hasil.

Yang harus kamu lakukan adalah mengetahui apa kekuranganmu, dan secara sadar melakukan hal-hal yang bisa memperbaiki kekurangan itu. Latihan seperti ini disebut sebagai purposeful practice (latihan bermakna). Atau “perfect practice” bila kita meminjam istilah Deddy Corbuzier.

Hal yang lebih berpengaruh daripada bakat, menurut Prof. Ericsson, ternyata adalah kepercayaan diri. Orang cenderung lebih bersemangat meningkatkan keahlian di bidang yang ia suka dan yakini. Sebaliknya, bila ia minder lebih dahulu dan merasa tidak berbakat di suatu hal, maka ia benar-benar tidak akan jadi ahli di bidang itu


Hidup tidak sesederhana kata-kata motivasi

Kehidupan manusia adalah hal yang kompleks. Kita tidak bisa menyamaratakan semua orang, dan tidak bisa merancang sebuah resep sukses mujarab yang pasti berlaku untuk semua kasus. Jadi apa yang dikatakan Mark Cuban bisa benar untuk suatu kasus, tapi ternyata tidak berlaku di kasus lainnya.

Mengejar passion tidaklah salah, tapi passion yang mana dulu? Jangan samakan passion dengan sekadar hobi atau kesenangan. Kamu bisa saja merasa punya passion di bidang musik. Tapi apakah itu passion untuk menciptakan karya musik terbaik di dunia, atau passion untuk menikmatinya saja?

read also

Kejarlah sesuatu yang bukan hanya kamu sukai, tapi juga mau kamu curahkan waktu untuk terus meningkatkan keahlianmu di dalamnya. Kombinasi dua hal ini, ditambah dengan mengenali “Faktor X” dalam dirimu, akan menghasilkan suatu jalan hidup yang bisa kamu terjang tanpa keraguan dan tanpa perasaan menyesal.

Jangan samakan passion dengan sekadar hobi atau kesenangan.

Kata kuncinya adalah percaya. Mungkin saat ini kamu belum ahli di bidang yang kamu minati. Tapi bila kamu percaya kamu bisa, dan mendedikasikan hidupmu untuk melatih diri, maka kamu akan jadi ahli.

Jadi ketika kamu sedang ragu terhadap sebuah pilihan karier, tanyakan pada dirimu sendiri. “Apakah saya rela bekerja keras selama 10.000 jam di bidang ini?” Bila memang itu jalan hidupmu, jawabannya pasti, “Ya!”

Sumber : Tech in Asia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here