Kiat Menghindari Diskriminasi dan Bias di Tempat Kerja

0
282

Ikhtisar
  • Bias merupakan sifat alami manusia. Meski berguna untuk mengambil keputusan-keputusan yang bersifat umum, namun sifat ini juga bisa menimbulkan masalah.
  • Keputusan dalam perusahaan yang terbaik bukanlah yang diambil berdasarkan bias, tapi berdasarkan data.
  • Langkah-langkah yang perlu kamu ambil untuk menghindari bias di dalam perusahaanmu antara lain:
    • Mengevaluasi sistem perusahaan,
    • Cek data output dari praktik bisnismu, dan
    • Menciptakan prosedur berstandar.

Sadarkah kamu bahwa kita sering mengambil keputusan bukan karena penilaian objektif? Ketika sebuah film terbit di bioskop, misalnya, penggemar genre suspense mungkin bisa tertarik untuk menonton hanya karena ada nama Christopher Nolan atau James Cameron tertera di poster. Padahal film tersebut belum tentu bagus.

Contoh kasus lain, misalkan ketika seseorang sedang membeli baju. Ada sebuah baju yang modelnya sangat ia sukai, tapi ia menolak membeli karena baju itu berwarna hijau. Alasannya? Hijau adalah warna kesukaan mantan pacarnya.

Kita bisa suka dan benci terhadap sesuatu bukan karena kualitas yang dimilikinya, tapi karena praduga atau alasan yang tak logis. Hal ini disebut bias. Bias sebetulnya merupakan salah satu sifat alami manusia, tapi terkadang sifat ini bisa menimbulkan masalah. Apalagi bila sifat itu muncul di tempat kerja.


Mengapa kita memiliki bias?

Otak manusia adalah organ yang sangat hebat, tapi sekaligus terbatas. Dalam satu detik, otak dapat menerima begitu banyak informasi kemudian menyimpannya. Tapi kita tidak bisa mengingat atau memroses informasi-informasi tersebut secara bersamaan.

Ketika harus mengambil keputusan cepat, otak cenderung bergantung pada pengalaman yang sudah terjadi secara berulang. Misalnya, bila melihat lampu oranye berkedip saat berkendara, artinya kita harus hati-hati karena ada kendaraan lain yang hendak berbelok. Sementara bila ada lampu merah, kita harus segera berhenti.

Diversity | Photo 1

Sudah waktunya kita mengakhiri diskriminasi SARA | Sumber Gambar: Flickr

Pengalaman-pengalaman ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan umum. Ditambah lagi, ketika pengalaman itu sudah menyebar luas di masyarakat, kita bisa memanfaatkannya untuk mendesain produk yang mudah menarik perhatian pengguna.

Tapi di sisi lain, pengalaman memunculkan bias. Kita jadi memiliki ekspektasi atau praduga tertentu terhadap sesuatu. Istilah lainnya adalah stereotip. Coba bayangkan, apa yang terjadi bila ada mobil yang memiliki lampu sein berwarna selain oranye? Kita bisa tidak sadar bahwa mobil itu akan berbelok, meski lampu sein sudah menyala.

Praduga ini menimbulkan masalah besar ketika diterapkan kepada manusia. Tadi kita mengasosiasikan warna lampu dengan aksi saat berkendara. Bagaimana bila kita mengasosiasikan warna kulit dengan perilaku seseorang?

Ketika kita sudah memiliki bias, penilaian kita menjadi tidak adil.

Tak hanya warna kulit, bias juga bisa muncul dari gender, usia, agama, atau faktor lainnya. Ketika kita sudah memilikinya, penilaian kita menjadi tidak adil. Kita menganggap seseorang baik atau buruk bukan karena kualitas, tapi karena praduga dan ekspektasi. Hasilnya adalah sikap diskriminatif yang sangat merusak.


Aspek-aspek kerja yang dapat terpengaruh

Bias dapat muncul di berbagai aspek perusahaan. Misalnya saat kamu merekrut karyawan. Apabila kamu punya pengalaman buruk bekerja dengan orang dari ras tertentu, kamu bisa enggan menerima karyawan dari ras tersebut. Padahal mereka belum tentu punya sifat yang sama.

Female Office Worker | Photo 1

Bias terhadap wanita telah lama menjadi masalah di dunia kerja | Sumber Gambar: Wikimedia Commons

Pembentukan kultur perusahaan juga dapat terpengaruh bias. Contohnya, bila kamu pernah bekerja di perusahaan yang memiliki jam kerja fleksibel, kamu mungkin cenderung ingin menerapkan jam kerja yang sama di perusahaan milikmu. Tapi apakah kultur seperti itu pasti cocok, sementara perusahaannya berbeda?

Aspek ketiga, yang mungkin paling berbahaya, adalah soal penilaian karyawan. Bias dapat membuatmu memanjakan karyawan yang kamu sukai dan mendiskriminasi karyawan yang tak kamu suka. Padahal dari segi performa, karyawan yang kamu sukai itu mungkin tidak ada istimewanya.

Terakhir, bias dapat berpengaruh terhadap cara kerja perusahaan itu sendiri. Sama halnya dengan perusahaan mainan yang memasarkan mobil-mobilan pada anak laki-laki dan boneka ke anak perempuan. Kamu mungkin mengembangkan produk dan memilih pasar berdasarkan praduga tertentu.


Langkah-langkah menghindari

Ketika kamu memiliki bias yang kuat, pikiranmu menjadi sempit. Kamu bisa kehilangan kesempatan mencoba hal baru, bahkan melewatkan karyawan bertalenta yang datang melamar. Sebaliknya, dengan terbebas dari bias, kamu bisa menciptakan lingkungan kerja yang adil dan mendorong munculnya ide-ide kreatif.

Contoh praktik desain bebas bias bisa kita lihat pada Google. Dahulu Google memiliki desain emoji yang bias terhadap gender. Sebagian besar emoji dengan karakter pria digambarkan sebagai pekerja profesional seperti polisi, petani, hingga dokter. Sementara karakter wanita hanya digambarkan sebagai pengantin atau pesolek.

Para desainer Google melakukan perombakan di tahun 2017 dengan merilis belasan emoji baru yang menggambarkan wanita di bidang profesional. Langkah ini sederhana, tapi membuat Google lebih diapresiasi oleh kalangan pasar wanita. Desain baru tersebut bahkan mendapat nominasi Designs of the Year dari museum desain London.

Google Female Emoji | Picture 1

Beberapa contoh emoji baru Google | Sumber Gambar: The Telegraph

Bila kamu ingin terhindar dari bias, kamu bisa menerapkan langkah-langkah berikut:

  • Langkah pertama adalah menyadari bahaya bias. Dengan menyadarinya, kamu bisa selalu waspada akan kemungkinan munculnya bias sewaktu-waktu.
  • Kedua, evaluasi sistem perusahaan. Apakah ketika merekrut karyawan kamu cenderung memprioritaskan almamater tertentu? Sudahkah kamu memiliki standar yang pasti? Lemparkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini untuk memastikan bahwa pengambilan keputusan terjadi secara objektif.
  • Cek data output praktik bisnismu. Dengan mengecek data, kamu bisa melihat apakah praktik bisnismu terlalu terpaku pada asumsi tertentu. Contohnya, apakah demografi penggunamu didominasi gender tertentu?
  • Ciptakan prosedur berstandar. Pengambilan keputusan harus melalui prosedur, bukan hanya berdasarkan “feeling” saja. Bila terjadi perbedaan pandangan, prosedur standar dapat memunculkan hasil yang lebih pasti dan terukur.

Menghilangkan bias sepenuhnya dari dalam diri kita adalah pekerjaan sulit, bahkan mungkin mustahil. Karena itu prinsip yang baik untuk diterapkan adalah mengambil keputusan berdasarkan data. Kamu juga perlu mengevaluasi prosedur secara berkala untuk memastikan prosedur itu berjalan sesuai tujuan.

read also

Lingkungan kerja yang bebas diskriminasi akan membuat karyawan setia dan bahagia. Sementara praktik bisnis yang bebas bias dan berbasis data dapat memicu kreativitas serta produktivitas. Selamat bekerja, dan jangan lupa untuk selalu berhati-hati terhadap bias!

Sumber: Google Primer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here