Resmi Masuk Bursa Saham Amerika, Induk Perusahaan Shopee Incar Rp12 Triliun

0
896

Pada 20 Oktober 2017 lalu, startup asal Asia Tenggara bernama Sea (sebelumnya bernama Garena) resmi terdaftar di bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), Amerika Serikat. Dengan langkah tersebut, perusahaan yang bergerak di bisnis game, e-commerce, dan layanan pembayaran digital tersebut berpotensi mendapat dana segar sebesar US$884 juta (sekitar Rp12 triliun).

Saham Sea dibuka dengan harga US$16,25 (Rp220 ribu) per lembar. Meski sempat jatuh ke angka US$14,1 (Rp190 ribu), harga saham Sea akhirnya ditutup di akhir hari pada harga US$16 (Rp216 ribu). Sebanyak 35,5 juta lembar saham telah diperjualbelikan dari total 59 juta yang ditawarkan, menurut data Nasdaq.

SEA IPO Price

Pergerakan harga saham Sea di hari pertama

Siap menjadi perusahaan Rp1,35 kuadriliun

Sea mempunyai tiga entitas bisnis di bawah mereka, yaitu Garena yang bergerak di bidang game, Shopee yang telah menjadi salah satu e-commerce terbesar di Indonesia, serta layanan pembayaran AirPay. Dalam sebuah wawancara dengan Tech in Asia, Presiden Sea Nick Nash menyatakan bahwa ketiga bisnisnya tersebut bisa bernilai US$100 miliar (sekitar Rp1,35 kuadriliun).

“Begini cara menghitungnya, ada tiga perusahaan yang mempunyai kemiripan dengan kami di Cina. Tencent yang mempunyai kesamaan dengan Garena di industri hiburan dan video, kini bernilai US$270 miliar (Rp3,65 kuadriliun). Alibaba yang mempunyai bisnis serupa dengan Shopee pun bernilai US$270 miliar (Rp3,65 kuadriliun). Dan tentu saja Ant Financial yang mirip dengan AirPay di bisnis pembayaran, distribusi produk digital, hingga asuransi. Nilai bisnis mereka mungkin mencapai US$75 miliar (Rp1 kuadriliun),” ujar Nash.

Angka-angka tersebut kemudian dibagi empat, berdasarkan perbandingan GDP antara Cina dengan Asia Tenggara dan Taiwan, di mana mereka telah beroperasi. Itulah dari mana Nash mendapat angka US$100 miliar.

SEA IPO 2

Sea merupakan satu dari sedikit startup teknologi Asia Tenggara yang masuk ke bursa saham Amerika Serikat. Layanan pembayaran asal Malaysia, MOL, pernah masuk ke Nasdaq pada tahun 2014. Namun mereka gagal meraih kesuksesan, dan hanya mendapat dana segar sebesar US$169 juta (Rp2,3 triliun), dari target US$300 juta (Rp4 triliun). MOL pun keluar dari bursa saham tersebut setelah harga mereka jatuh di bawah harga penawaran minimal.

Sea mempunyai dua tantangan besar setelah terdaftar di bursa saham New York. Mereka harus tetap mengembangkan bisnis mereka sambil berusaha mengejar keuntungan. Pada tahun 2016 lalu, 95 persen pendapatan Sea masih datang dari bisnis hiburan.

Menarik untuk ditunggu bagaimana mereka akan mengembangkan Shopee dan AirPay setelah proses IPO. Sejauh ini, pengembangan kedua layanan tersebut membuat Sea harus merugi hingga US$154 juta (Rp2 triliun), meski pendapatan mereka meningkat ke angka US$200 juta (Rp2,7 triliun) pada pertengahan tahun 2017 ini.

Sumber : Tech in Asia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here