Lima Hal yang Perlu Diketahui dari Layanan “Life Experience”

0
117

Belajar dari Co-Founder dan CEO Goers Sammy Ramadhan

Di era kekinian, semakin mudah untuk mengisi waktu luang di akhir pekan. Kamu bisa menonton film, menyaksikan pertunjukan musik, hingga pergi berlibur. Tiket pertunjukan atau perjalanan kini juga mudah didapatkan secara online dengan sekali tap di ponsel kamu.

Nah, beragam aktivitas hiburan yang disebutkan di atas biasa disebut sebagai produk “life experience“. Masyarakat dapat merasakan sebuah nilai tambah (value added) dari kegiatan yang mereka lakukan.

Di era digital, produk life experience kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Lalu, mengapa produk life experience kini menjadi penting?

Untuk mengetahui lebih dalam, #SelasaStartup edisi kali ini diisi Sammy Ramadhan, Co-Founder dan CEO Goers, sebuah platform penyedia informasi sekaligus penjual tiket event.

Kebangkitan bisnis life experience

Produk life experience ditandai dengan beragam aktivitas hiburan yang dapat dinikmati di segala situasi. Tak terbatas hanya pertunjukan musik, teater, film, atau tiket perjalanan, life experience dapat pula berupa aktivitas olahraga.

Sammy menceritakan bagaimana bisnis life experience mulai mengalami kebangkitan di Amerika Serikat (AS). Hal ini ditandai dengan maraknya penyedia layanan on-demand dengan mengadopsi model bisnis sharing economy. Menurutnya, hal ini memicu masyarakat AS lebih memilih untuk menikmati ragam produk life experience ketimbang harus membeli barang ritel.

“Mereka tidak berpikir untuk memiliki rumah, mereka memilih untuk kerja di mana saja, jadi freelance. Kalaupun uang mereka bertambah, mereka tidak nabung, namun menaikkan kebutuhan sosial mereka,” tutur Sammy.

Situasi di atas berbeda dengan di Indonesia. Life experience masih dilihat sebagai aktivitas liburan di mana orang-orang harus menabung dulu untuk melakukannya. “Padahal, life experience itu tidak cuma sebatas berlibur,” tambahnya.

Kendati demikian, kondisi di atas justru dinilai menjadi peluang bagi Sammy untuk masuk ke meramaikan dan mendorong pertumbuhan industri hiburan di era digital.

Generasi milenial jadi pendorong

Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan layanan berbasis life experience. Mengutip ucapan Presiden RI Joko Widodo, Sammy mengungkapkan Indonesia memiliki daya saing tinggi, terutama pada sektor pariwisata. Sektor ini dinilai “seksi” mengingat Indonesia memiliki sumber daya yang unik yang tidak dapat diduplikasi.

Tentu ini akan mendorong masyarakat, terutama generasi milenial untuk pergi berlibur. Apalagi generasi milenial kini erat dengan media sosial. Mereka semakin melihat bahwa ada kebutuhan untuk membuat konten media sosial yang berkualitas.

“Banyak hal-hal yang bakal menjadi potensi besar untuk bisnis (life experience). Misalnya, tour, event organizer, trainer, dan pengajar di media sosial sekarang banyak. Di YouTube misalnya. Atau menjadi entertainer. Online presence itu [jadi] penting,” ungkap Sammy.

Pengalaman terbaik lewat mobile

Sammy menilai penting untuk mengetahui target pasar yang akan disasar. Mengingat produk life experience kebanyakan dinikmati oleh generasi milenial, ia pun menekankan pentingnya pengalaman bertransaksi melalui mobile.

“Dulu saat berjualan tiket offline, sistemnya cukup rumit, ada yang harus transfer, kirim buktinya ke WhatsApp, ada juga tiket palsu, atau harus cetak tiket, itu kan ribet, belum lagi antri,” lanjut Sammy.

Di Goers sendiri, ungkap Sammy, pihaknya lebih fokus untuk menyediakan pengalaman optimal melalui aplikasi. “Setelah kami pelajari, milenial itu ternyata mau bertransaksi via ponsel. Nah, solusi [masuk ke bisnis] life experience untuk menarik peluang adalah dengan mobile. Kami punya aplikasi dan partner,” jelasnya.

Life experience untuk mendongkrak bisnis

Selain memberikan nilai tambah kepada masyarakat, layanan life experience nyatanya dinilai dapat menguntungkan perusahaan. Bagaimana bisa?

Menurut Sammy, layanan life experience dapat dijadikan sebagai salah satu jembatan untuk memperkenalkan bisnisnya kepada khayalayak. Sejumlah perusahaan berskala besar pun kini mulai menerapkan strategi tersebut.

“Kenapa banyak perusahaan rokok menjadi sponsor untuk acara konser? Karena mereka menjual pengalamannya bukan rokoknya. Caranya melalui acara-acara tersebut. Jadi life experience menjadi salah satu jembatan untuk memperkenalkan produknya,” ungkap Sammy.

Contoh lainnya adalah memperkenalkan bisnis dengan mengadakan kelas yoga di restoran rooftop terbesar di Jakarta. “Yoga tidak ada hubungannya dengan restoran. Tetapi, mereka yang mengikuti kegiatan itu bisa menjadi brand loyalist yang secara tidak langsung mempromosikan tempatnya ke teman-teman,” lanjutnya.

Teknologi menjadi kunci

Diakui Sammy, saat ini layanan Goers tidak memiliki khusus untuk mengelola komunitas. Padahal, komunitas kini dianggap sebagai salah satu upaya untuk mendongkrak bisnis. Goers hanya mengandalkan rating dan review untuk meningkatkan engagement dengan pengguna.

Namun, untuk menjalankan bisnis penyedia produk life experience, penting pula untuk fokus terhadap pengembangan teknologi. Menurutnya, perusahaan bisa bersaing dengan membawa pengalaman yang lebih baik kepada pengguna.

“Kami tidak memiliki komunitas. Komunitas kami dibangun oleh pengguna sendiri. Tapi bukan berarti kami tidak mau, hanya saja kami ingin fokus dengan teknologi agar bisa bersaing. Dengan teknologi yang oke, user, partner, dan merchant akan datang dengan sendirinya,” katanya.

Dengan memosisikan diri sebagai perusahaan teknologi, perusahaan bisa lebih optimal untuk membawa experience lebih baik, baik pada offline maupun onlline.

Sumber : Daily Social

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here