Penjualan iPhone 8 dan 8 Plus Lesu, Apa Sebabnya?

0
749

Angka penjualan iPhone 8 dan iPhone 8 Plus, dua smartphone terbaru Apple yang baru dirilis pada September 2017 lalu, terlihat cukup lesu. Setidaknya laporan kuartalan dari empat operator seluler raksasa Amerika Serikat mengatakan demikian.

Ambil saja contoh laporan dari T-Mobile yang menyebutkan bahwa mereka hanya berhasil menggaet 595.000 pelanggan baru di kuartal ketiga tahun 2017, turun dari angka 851.000 di kuartal yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan penurunan minat pengguna untuk melakukan pembaruan perangkat.

Data di atas turut didukung dengan bukti nyata di lapangan. Pada tahun 2017, antrean menunggu peluncuran iPhone 8 dan iPhone 8 Plus tampak sepi di berbagai belahan dunia. Bahkan di Cina yang merupakan salah satu pasar Apple terbesar pun antusiasme itu tidak terlihat.

Bagaimana dengan Indonesia? Laporan yang disusun oleh iPrice menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia justru lebih tertarik dengan informasi penurunan harga iPhone tipe lama, seperti iPhone 6 dan iPhone 7.

Fakta di atas cukup menarik mengingat iPhone 8, 8 Plus, dan iPhone X sudah memenuhi syarat TKDN, mengisyarakatnya tidak lama lagi masyarakat Indonesia dapat membeli perangkat-perangkat tersebut dalam waktu dekat.

Dibayang-bayangi popularitas iPhone X

iPhone X | Ilustrasi

Sumber gambar: endgadget

Banyak pakar yang sepakat bahwa anomali ini bisa jadi disebabkan oleh keputusan Apple sendiri. Pada September 2017 lalu, Apple meluncurkan iPhone 8 dan 8 Plus yang mendapatkan respons cukup hangat. Setidaknya sampai iPhone X diperkenalkan beberapa menit kemudian.

iPhone X punya segala hal yang dimiliki iPhone 8 dan 8 Plus, ditambah serangkaian fitur tambahan. Layar OLED, prosesor A11 Bionic, wireless charging, Bodi tanpa bezel, Face ID yang dibekali teknologi mutakhir, kamera utama dengan OIS ganda, dan masih banyak lagi.

Mengingat iPhone 8 dan 8 Plus masih saja menggunakan desain yang sama sejak empat tahun silam, sulit membantah bahwa iPhone X merupakan perangkat yang lebih diminati oleh konsumen. Meski dibanderol dengan harga yang menurut sebagian orang tidak masuk akal.

Keputusan tidak lazim Apple tentang siklus peluncuran iPhone inilah yang menempatkan para konsumen loyalnya pada dilema cukup sulit. Pilihannya, antara menunggu peluncuran iPhone X yang hanya berselang kurang dari dua bulan, atau tetap memakai iPhone 7, 7 Plus, bahkan iPhone 6s yang masih sangat bisa diandalkan. iPhone 8 dan 8 Plus, dalam kasus ini, berada di posisi yang kurang diuntungkan.

iPhone 8 atau iPhone 7s?

iPhone X iPhone 8 Plus | Ilustrasi

Sumber gambar: Pocket-Lint

Pengumuman dua model iPhone yang dirilis berdekatan bukanlah satu-satunya keanehan yang terjadi pada September 2017 lalu. Keanehan lainnya, Apple menggunakan nama iPhone 8 untuk smartphone barunya alih-alih iPhone 7s.

Hampir tidak alasan yang logis mengapa Apple melakukannya. Dari sisi desain dan fitur, iPhone 8 tidak memiliki lompatan inovasi yang cukup berarti (menggunakan logika yang sama, iPhone 7 juga tidak banyak berubah dari iPhone 6s dan bahkan iPhone 6).

Bisa jadi, langkah ini merupakan usaha Apple untuk meyakinkan para konsumen loyal mereka bahwa iPhone 8 dan 8 Plus merupakan upgrade yang signifikan dari iPhone 7 dan 7 Plus. Atau bisa saja, ini adalah tahun di mana Apple akhirnya menghentikan penggunaan huruf “s” yang mewakili paruh kedua siklus hardware iPhone.

Hal ini mungkin memunculkan pertanyaan mendasar di benak kita. Alasan apa yang mendasari Apple untuk meluncurkan dua model iPhone dalam waktu yang berdekatan?

Untuk siapa iPhone 8 dibuat?

Face ID | Ilustrasi

Sumber gambar: CNET

Alasannya cukup sederhana. Beberapa media melaporkan iPhone X hanya akan diproduksi secara terbatas pada awal peluncurannya. Berdasarkan laporan dari Nikkei, hal ini disebabkan masalah produksi dot projector, komponen penting dari sensor 3D pendukung fitur Face ID yang dimiliki iPhone X.

Nikkei mengabarkan bahwa LG Innotek dan Sharp selaku produsen dari komponen dot projector kesulitan memenuhi kuota, lantaran tingginya standar akurasi dot projector yang diminta Apple. Akibat masalah ini, menurut sumber yang berhasil didapat oleh Bloomberg, Apple rela menurunkan standar akurasi dot projector guna meningkatkan volume produksi, meski hal tersebut telah dibantah oleh Apple.

iPhone 8 dan iPhone 8 Plus yang diproduksi dalam volume jauh lebih besar, di sisi lain, diharapkan dapat menutupi keterbatasan ini serta menjadi pendongkrak utama pendapatan Apple di tahun fiskal 2018.

Maka ketika Apple kesulitan untuk meyakinkan konsumen loyalnya bahwa iPhone 8 dan 8 Plus merupakan smartphone yang pantas dimiliki dan tidak kalah menarik dari iPhone X, Apple berada dalam masalah yang cukup pelik.


Pada akhirnya, meski mengalami hambatan penjualan, saya tetap optimis melihat puluhan juta iPhone 8 dan iPhone 8 Plus akan terjual dan disukai oleh konsumen di seluruh dunia. Bagaimana pun juga, iPhone tetaplah iPhone.

Masalah ini bisa saja tidak terjadi apabila iPhone X bukanlah smartphone super canggih dengan desain dan fitur revolusioner. Jika Apple berhasil menyelesaikan masalah produksi iPhone X dalam waktu dekat, mungkin hanya tinggal menunggu waktu sampai smartphone tersebut berhasil memecahkan rekor sebagai iPhone terlaris sepanjang sejarah.

 

Butuh Sewa Virtual Office di Surabaya

virtual office surabaya
virtual office surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here