Kampus Penghasil Entrepreneur , Apa yang Salah?

0
2725

Ada diskusi singkat yang menarik di grup WhatsApp #StartupUGM yang dipicu oleh salah satu rekan yang melempar wacana bahwa Stanford adalah kampus penghasil founder startup terbesar, menurut artikel ini.

Ujung-ujungnya sih membahas tentang fenomena banyaknya kampus yang memiliki program wirausaha dan mengklaim sebagai “kampus penghasil wirausaha”.

Diskusi berkembang dengan komentar ringan seperti: “Kalau semua jadi wirausaha, yang jadi dosen siapa?”.

Ada juga yang berkomentar,  “Tapi nek dadi wirausaha kabeh njuk ra mlaku perusahaane” (kalau semua jadi wirausaha, terus perusahaan enggak bakal jalan dong), sampai komentar yang super nyelekit seperti: “Kampus tugasnya melahirkan alumni bergelar, masa melahirkan wirausaha. Yang mengajar saja kuli, kok menghasilkan wirausaha.”


Nah, belum lama ini saya diundang ke almamater kampus dulu untuk memberikan kuliah Riset Manajemen dengan topik sales pelesir alias travelling salesman problem.

Travelling salesman problem (TSP) ini adalah sebuah masalah algoritme klasik yang muncul dari tahun 1800–an. Contoh problemnya begini: Seorang sales kasur springbed bernama Tono punya area penjualan di seluruh Jawa. Awalnya dia harus jualan ke tiga kota, yaitu Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Karena ia tinggal di Yogyakarta, maka ia akan ke Jakarta lebih dulu untuk berjualan, lalu ke Surabaya, kemudian kembali ke Yogyakarta. Masalah selesai.

Karena jualan kasur laku keras, perusahaan tempat Tono bekerja mau melebarkan sayap ke kota-kota lain. Jadi, Tono ditugaskan berangkat ke-25 kota. Nah, di sinilah masalah menjadi pelik. Karena setiap kota dengan kota yang lainnya mempunyai jarak yang berbeda.

Inilah yang disebut TSP — situasi di mana kita harus menghitung rute paling efisien agar Tono bisa mengunjungi seluruh kota ini, tapi enggak menghabiskan waktu dan biaya transportasi yang tidak perlu.

Tapi, saya enggak akan membahas bagaimana memecahkan TSP di artikel ini. Kamu bisa cari di Google untuk memecahkan masalah ini.

Yang sebenarnya menarik adalah ketika problem ini muncul di buku teks dan mahasiswa diminta untuk mencari solusi untuk memecahkan masalah ini, maka akan muncul beberapa kemungkinan:

  • Mahasiswa A: “Yang muncul di buku teks kemungkinan muncul di ujian, jadi saya harus belajar memecahkan ini!”
  • Mahasiswa B: “Pasti si A tahu jawabannya, nanti saya tanya saja sama dia caranya bagaimana”
  • Mahasiswa C: “Jadi sebenarnya buat apa kita harus ngitung rute sales sih? Kan kalau mau jualan springbed tinggal pasang di marketplace saja atau bikin website buat jualan. Kenapa harus datang ke kotanya satu per satu?”

Dan tebakan kamu benar!

Yang punya bibit entrepreneur ya si Mahasiswa C. Sayangnya, dia menjadi yang paling ogah-ogahan untuk memecahkan masalah yang ada di buku teks kampus karena kekritisannya. Dia merasa kalau masalah ini enggak relevan lagi, dan enggak perlu dipecahkan.


entrepreneur | ilustrasi

Sumber: Pavel Kunitsky

Singkat cerita, kuliah saya kemarin lumayan sukses, walaupun tidak semua mahasiswa hadir (hari Kamis sore, Jumatnya libur long weekend). Tapi diskusinya sangat menarik dan mahasiswa-mahasiswi yang datang sangat kritis.

Kami membahas bahwa di perusahaan saya, Kulina, TSP ini adalah salah satu masalah yang sehari-hari harus dipecahkan. Dapur mana yang harus melayani konsumen X, berapa kurir yang diperlukan hari itu, dan rute mana yang harus diambil agar ribuan konsumen bisa mendapatkan makan siangnya tepat waktu.

Saya membawa permasalahan ini dengan memberikan contoh kasus nyata, di mana rute-rute kurir yang dihasilkan oleh algoritme yang efisien akan menghemat biaya ratusan ribu, bahkan jutaan dolar per tahun. Bayangkan jika dengan rute ini bisa berhemat Rp3.000 saja per boks makan siang, dikali puluhan ribu konsumen tiap harinya!

Efeknya membuat saya cukup kaget. Saya tidak menyangka bahwa responsnya cukup intens — dan tentunya bukan karena kemampuan public speaking saya yang pas-pasan ini.

Jadi kesimpulannya kira-kira begini:

  • Banyak mahasiswa-mahasiswi yang merasa bahwa apa yang dipelajari di bangku kuliah akan tidak terpakai nantinya. Jadi mereka malas-malasan kuliah (ini seperti saya dulu waktu kuliah).
  • Mahasiswa yang rajin, berpaku pada textbook dan bahan ujian untuk belajar, tapi enggak bisa menghubungkan antara topik mata kuliah dengan masalah dunia nyata.

Menurut perspektif saya dan berdasarkan pengalaman kemarin, ketika kampus bisa membenturkan antara topik kuliah dengan masalah di dunia nyata dengan konteksnya masing-masing, maka hal menarik akan terjadi.

Mahasiswa kritis akan tertantang untuk belajar dan memecahkan topik yang ada. Mahasiswa yang rajin akan keluar dari kotaknya dan mendapati bahwa apa yang mereka pelajari juga merupakan masalah di dunia nyata.

Curiosity sparks. Those little grey cells glow.

Mahasiswa malas, ya… tetap saja malas sih, enggak akan ngaruh.

Jadi, menurut saya pribadi, kampus memang tidak perlu memaksakan diri mengemban tugas membuat semua muridnya menjadi wirausaha, tapi harus bertanggung jawab penuh untuk selalu membenturkan teori yang diajarkan dengan masalah-masalah di dunia nyata.

Kenapa begini? Karena memang tidak semua orang untuk jadi wirausahawan. Seorang wirausaha haruslah seorang generalis, yang melihat masalah secara kritis, menguasai banyak hal, tapi mungkin saja hanya di permukaan dan tidak paham detail. Sedangkan spesialis hanya akan menguasai sedikit subjek, tapi sangatlah detail dan mendalam.

 

Kolaborasi spektrum generalis dan spesialis inilah yang akan menghasilkan inovasi-inovasi disruptif yang luar biasa. Dan ada benang merah tebal yang bisa ditarik: inovasi terjadi karena kita menyadari ada masalah yang harus dipecahkan. Dan budaya “mencari masalah di dunia nyata” inilah yang harus selalu ditumbuhkan di mana pun.

Di sinilah kenapa Stanford, Harvard, dan beberapa kampus tertentu bisa menghasilkan lebih banyak wirausaha dengan kampus-kampus di Indonesia (ada generalisasi di sini, tentunya). Menurut saya, bukan karena mereka punya banyak program wirausaha saja, tapi karena setiap topik pembelajaran di kampus selalu dekat dengan dunia nyata.

Mereka diajarkan untuk memecahkan masalah yang ada, bukan untuk mendapat nilai setinggi-tingginya. Nilai adalah “efek samping” dari pemikiran kritis untuk memecahkan masalah, bukan menjadi tujuan kuliah.

Jadi, kalau saya diminta memberi saran bagaimana caranya agar kampus bisa menghasilkan banyak wirausaha yang bermutu, maka inilah daftarnya:

  1. Program wirausaha itu perlu, tapi enggak akan berhasil kalau “terpisah” dari pembelajaran sehari-hari di kampus.
  2. Pengajar harus selalu update dengan topik yang ada, yakni menghubungkan kasus-kasus di dunia nyata dengan yang diajarkan di textbook. Semakin dekat masalah dengan keseharian kita, maka akan semakin menarik.
  3. Undanglah wirausahawan dan praktisi yang relevan untuk mengajar di mata kuliah yang lebih spesifik, bukan hanya di seminar-seminar di hall yang pesertanya ratusan. Kalau topiknya benar-benar cocok, pasti mereka dengan senang hati datang.

Nah, untuk mahasiswa-mahasiswi, daftarnya agar menjadi wirausaha atau praktisi yang bermutu dan keren (dan lulus disayang dosen pembimbing):

  1. Jangan malas kalau diberi topik tertentu sama dosenmu. Coba cari di Google “[nama topik] in real world scenario” atau semacam itu.
  2. Ajak dosenmu berdiskusi atas topik tersebut dan hubungannya dengan dunia nyata. Yakin deh, dosenmu pasti bahagia kamu ajak diskusi.
  3. Jangan kebanyakan ikut seminar motivasi. Secukupnya saja. Motivasi terbaik muncul dari passion dan keingintahuanmu yang besar.

Bagaimana menurut kamu?

Sumber : Tech in Asia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here