Esensialisme – Bekerja Lebih Sedikit dengan Hasil Lebih Maksimal

0
1758

Ikhtisar
  • Prinsip Esensialisme dalam kehidupan memandang bahwa manusia dapat mencapai hidup yang lebih bermakna dengan mengerjakan lebih sedikit hal.
  • Mengerjakan lebih sedikit bukan berarti bermalas-malasan, tapi secara aktif menentukan apa yang perlu kamu kerjakan dan apa yang bisa kamu tinggalkan.
  • Terdapat empat pilar utama dalam prinsip Esensialisme, yaitu:
    • Kerjakan lebih sedikit, tapi dengan lebih baik,
    • Pilih sebuah bidang, dan jadilah ahli di bidang tersebut,
    • Terus mempertanyakan diri sendiri, dan
    • Lakukan perubahan dengan segera.

Pernahkah kamu merasa memiliki terlalu banyak hal untuk dikerjakan? Era modern yang serba cepat menuntut kita mendorong diri sampai maksimal. Mencoba hal baru sebanyak mungkin, dan terus berkembang melebihi diri di hari kemarin. Terkadang kita lupa bahwa waktu dan kemampuan manusia ada batasnya.

Kita tidak bisa menjadi ahli di semua bidang, memikul semua pekerjaan, atau merasakan semua pengalaman. Memiliki dan mengerjakan terlalu banyak hal justru bisa membuat kita tidak bahagia. Bila hal ini terjadi padamu, kamu bisa mencoba pola hidup yang disebut “Esensialisme”. Seperti apa Esensialisme itu?


Kita terbiasa merasa tak berdaya

Orang yang sibuk sering kali berkata, “Saya harus melakukan ini dan itu.” Ia terbebani begitu banyak tugas sampai kehilangan kontrol atas hidupnya sendiri. Lambat laun ia menjadi terbiasa berada dalam kondisi tak berdaya, dan tak sadar bahwa hal-hal di depan matanya itu belum tentu penting untuk dikerjakan.

Kebiasaan ini membuat pikiran kita lemah. Kita menerima mentah-mentah beban yang ditimpakan pada kita. Walaupun ada pilihan yang lebih baik, secara default kita merasa tak berdaya dan tidak berusaha mencari alternatif itu. Pola pikir pasif ini dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah learned helplessness (sikap menyerah).

Menyerah itu hal yang sangat mudah, sementara mengambil keputusan butuh waktu dan energi.

Siapa saja bisa terjangkit sikap menyerah, apalagi bila ia terlalu sering berada dalam kondisi yang tidak bisa ia kendalikan. Lagi pula menyerah itu hal yang sangat mudah, sementara mengambil keputusan butuh waktu dan energi.

John Carmack | Quote 1

John Carmack, pendiri id Software dan CTO Oculus VR | Sumber Gambar: AZquotes

Ambil contoh ketika kamu sedang lapar. Seandainya di hadapanmu hanya ada sepiring nasi goreng, mungkin kamu akan melahapnya tanpa pikir panjang. Tapi ketika disuguhi menu berisi ratusan jenis makanan, kamu justru butuh waktu lama untuk menentukan, bahkan malah bingung ingin makan apa.

Pasrah pada keadaan memang mudah, tapi dampaknya buruk. Kamu tertekan karena beban pikiran begitu banyak, dan hasil kerjamu tidak optimal karena tidak fokus. Ditambah lagi, kamu merasa tidak punya waktu luang. Mindset esensialis dapat membantumu melepaskan diri dari hal-hal seperti ini.


Prinsip-prinsip Esensialisme

Kamu mungkin berpikir bahwa banyaknya pekerjaan bisa diatasi dengan cara mengatur prioritas. Tapi prioritas tidak mengurangi jumlah pekerjaan itu sendiri. Apalagi terkadang sulit untuk menentukan pekerjaan apa yang lebih penting dari yang lain.

Kita dapat meraih hidup yang lebih bermakna dengan cara mengerjakan lebih sedikit hal.

Greg McKeown menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less bahwa kita dapat meraih hidup yang lebih bermakna dengan cara mengerjakan lebih sedikit hal. Ini bukan berarti malas, tapi kita secara aktif terus memilih untuk fokus pada hal yang benar-benar penting.

Prinsip utama esensialisme adalah “lebih sedikit tapi lebih baik”. Untuk mencapai prinsip ini, kita perlu belajar melepaskan hal-hal nonesensial dari hidup kita. Seperti membuang baju kesayangan yang sudah tak terpakai, kita harus rela meninggalkan sesuatu demi memberi ruang pada hal yang lebih penting.

Ada empat pilar dalam Esensialisme yang bisa kamu terapkan:

  • Kerjakan lebih sedikit, tapi lebih baik. Temukan hal-hal dalam hidupmu yang bisa kamu tinggalkan. Setelah itu, kerjakan hal-hal penting dengan standar yang lebih tinggi.
  • Pilih sebuah bidang, dan jadilah ahli di bidang itu. Daripada mempelajari semua hal sedikit-sedikit, lebih baik kamu fokus menjadi yang terhebat di satu hal saja.
  • Terus mempertanyakan diri sendiri. Meski kamu sudah merasa melakukan hal yang penting, teruslah bertanya apakah hal itu masih penting atau tidak. Keputusanmu bisa saja berubah mengikuti waktu.
  • Melakukan perubahan dengan segera. Begitu kamu yakin ada yang bisa dibuang dari hidupmu, segeralah buang. Jangan ragu-ragu, apalagi menunggu lama.

Prinsip-prinsip di atas mungkin terdengar simpel. Tapi pada praktiknya tidak semua orang bisa tegas meninggalkan pekerjaan. Apalagi bila ia sudah terlanjur menginvestasikan waktu atau uang yang cukup banyak.

The Founder | Screenshot 1

Kisah pendiri McDonald’s adalah contoh praktik esensialisme yang kejam | Sumber Gambar: The Founder

Ingat kata John Carmack, “Kunci fokus adalah menentukan apa hal yang tidak kamu kerjakan.” Seorang esensialis harus mampu bersikap “kejam” dalam menentukan apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus dibuang. Apakah kamu siap melakukannya?


Bersyukurlah bila kamu bosan

Setelah berhasil menyingkirkan hal-hal nonesensial di sekitar kita, jangan lupa meluangkan waktu untuk beristirahat. Di era modern ini kita sangat jarang merasa bosan. Smartphone, komputer, dan internet terus memberikan hal untuk dikerjakan. Padahal semua itu sifatnya nonesensial.

Kondisi “tidak ada pekerjaan” sebenarnya adalah waktu yang sangat berharga. Kamu jadi punya kesempatan untuk berpikir, menyegarkan pikiran, dan mengingat-ingat kembali apa tujuan hidupmu. Jangan sampai kamu terlalu sibuk mengerjakan tugas harian sampai lupa apa visi yang ingin kamu raih.

Banyak yang mengira bermain hanyalah buang-buang waktu, padahal manfaatnya sangat besar.

Waktu luang juga bisa kamu gunakan untuk bermain. Banyak yang mengira bermain hanyalah buang-buang waktu, padahal manfaatnya sangat besar. Selain sebagai hiburan dan penyembuh stres, bermain adalah kesempatan bagi otakmu untuk mengembangkan ide dan menyelesaikan masalah yang umumnya tidak kamu temui di kehidupan.

Dengan memaparkan diri pada ide-ide tersebut, jiwamu akan mendapat inspirasi serta kreativitas yang lebih baik. Perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Pixar bahkan memberi fasilitas bermain pada karyawan, karena mereka tahu betapa pentingnya bermain.

Dendi | Photo 1

Bermain dapat memicu kreativitas, tapi jangan lupa istirahat! | Sumber Gambar: MCV

Tapi sebaik-baiknya permainan, ada hal yang lebih penting, yaitu istirahat. Jangan sampai keinginanmu bermain mengalahkan kebutuhanmu untuk tidur cukup. Tidur juga merupakan tugas yang esensial dalam hidup, karena tanpa tidur cukup kamu tidak akan bisa produktif bekerja.


Esensialisme bukanlah bermalas-malasan, tapi merupakan pola hidup di mana kamu berperan aktif menentukan takdirmu sendiri. Dengan membuang hal-hal nonesensial, kamu bisa fokus pada pekerjaan yang benar-benar penting. Butuh sikap tegas untuk melepaskan hal-hal nonesensial tersebut.

read also

Mengubah diri menjadi seorang esensialis bukan perkara gampang. Mungkin kamu tidak bisa tiba-tiba berubah sepenuhnya, tapi harus melalui pembiasaan. Cobalah mengikis hal-hal nonesensial dari hidupmu dari sekarang. Siapa tahu, kamu menyimpan potensi untuk menjadi seorang esensialis sejati.

Sumber: Blinkist

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here