Menilik HDR, Masa Depan Teknologi Televisi Kita

0
413

 

Bila kamu mengikuti perkembangan teknologi seputar televisi atau video game dalam tiga tahun terakhir, kamu mungkin sering mendengar istilah “HDR” didengungkan. Biasanya HDR muncul berdampingan dengan istilah-istilah lain, seperti “4K”, “UHD”, “Dolby Vision”, dan sebagainya.

Sebenarnya HDR itu apa, sih? Satu hal yang pasti, teknologi ini menjanjikan tampilan visual lebih baik, tapi apa yang dimaksud lebih baik itu? Seberapa penting HDR dalam pengalaman kita menyajikan hiburan multimedia, dan apakah sudah waktunya kita berinvestasi dalam perangkat yang mendukung teknologi HDR? Mari kita telaah bersama.


Kuantitas versus kualitas piksel

Resolusi layar memang memiliki peran besar dalam menentukan kualitas gambar. Berkat resolusi yang lebih tinggi, sebuah layar dapat menayangkan gambar dengan jumlah piksel yang lebih banyak, sehingga gambar tersebut terlihat lebih tajam dan mendetail. Tapi ada suatu hal yang tidak kalah penting dari jumlah piksel, yaitu seberapa bagus piksel ditampilkan.

Ada dua faktor penting yang menjadi tolok ukur kualitas tampilan piksel, yaitu contrast ratio dan color accuracy. Contrast ratio menunjukkan seberapa terang dan seberapa gelap sebuah piksel bisa ditampilkan. Sementara color accuracy, seperti namanya, adalah seberapa akurat warna yang dihasilkan bila dibandingkan dengan warna dunia nyata.

Pada tahun 1990, International Telecommunication Union (badan khusus PBB yang menangani masalah teknologi informatika) menetapkan sebuah standar rentang warna yang disebut Rec. 709. Ini adalah standar warna yang umum digunakan untuk televisi high-definition kelas konsumen. Namun sebenarnya bila dibandingkan dengan warna dunia nyata, standar ini masih sangat rendah.

Mata manusia memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi warna dalam rentang yang sangat lebar (lihat diagram di bawah). Sayangnya, standar Rec. 709 hanya mampu menampilkan sekitar 35 persen dari keseluruhan warna yang ada. Bayangkan betapa banyaknya informasi yang hilang!

HDR | CIE 1931 Color Space

CIE 1931 Color Space


Mengejar sebuah standar baru

Demi mengejar kualitas gambar yang lebih baik dan nyata, industri film Amerika Serikat menciptakan standar warna baru yang disebut DCI-P3. Dibandingkan Rec. 709, DCI-P3 memiliki rentang warna yang jauh lebih lebar, yaitu sekitar 45 persen dari warna kromatik keseluruhan. Standar warna dengan rentang yang lebih luas inilah yang disebut sebagai high dynamic range atau HDR.

Meski standar DCI-P3 sudah muncul ke publik sejak 2010, tidak semua televisi atau monitor mendukung standar warna ini. Layar HDR baru mulai merambah pasaran sejak pertengahan 2015. Perusahaan elektronik raksasa seperti Apple, Samsung, dan Sony menjadi pionir yang menyertakan fitur HDR dalam perangkat high-end milik mereka.

read also

BACA JUGA

Apa saja sepatu yang telah mengimplementasikan teknologi baru?

Dibandingkan dengan standar resolusi baru yang populer saat ini, yaitu UHD atau 4K (3840 x 2160 piksel), HDR adalah fitur yang jauh lebih menarik. Pasalnya, 4K “hanya” memberikanmu tampilan gambar yang lebih mendetail, sementara HDR memberikanmu warna-warna yang lebih cerah, lebih dalam, bahkan mungkin tak pernah kamu lihat sebelumnya di layar kaca.

Bila televisi HDR dan televisi biasa dipajang berdampingan, perbedaan kualitasnya akan benar-benar terasa. Sayangnya perbedaan ini sulit untuk diceritakan lewat kata-kata, gambar, atau iklan video. Lagi pula bagaimana cara menunjukkan suatu warna di media yang tidak bisa menampilkan warna tersebut?

Semua gambar perbandingan yang kamu lihat di sini pun sebenarnya tidak bisa mewakili tampilan aslinya, kecuali bila kamu membaca artikel ini di layar yang mendukung HDR. Mirip seperti virtual reality, kamu harus mencoba melihat layar HDR secara langsung untuk bisa mengetahui seperti apa rasanya.


Butuh dukungan konten

HDR | Simulated

Seperti file video yang memiliki ketajaman gambar berbeda tergantung resolusinya, konten televisi juga bisa memiliki ketajaman warna berbeda. Untuk memaksimalkan fitur HDR, video atau film harus dibuat dengan menggunakan palet warna DCI-P3. Bila tidak, tampilannya hanya akan sama seperti HDTV biasa.

Tantangan bagi industri film adalah menciptakan konten yang terlihat bagus baik di layar biasa maupun layar HDR. Untuk melakukan hal ini tentunya tidak bisa asal saja. Mereka butuh proses pengeditan yang teliti, bahkan mungkin melakukan dua pengeditan atau post-processing terpisah untuk memfasilitasi kedua standar warna.

Untungnya saat ini media penyimpanan yang lazim digunakan, yaitu Blu-Ray Disc, memiliki kapasitas yang sangat besar. Dengan ruang hingga 128GB, pembuat film bisa memasukkan informasi warna berupa metadata tambahan. Kecepatan internet yang semakin baik juga memungkinkan layanan streaming seperti Netflix atau Amazon Video untuk menyertakan dukungan HDR.

Industri video game juga bisa memanfaatkan teknologi HDR untuk memberi pengalaman bermain yang lebih baik. Dibandingkan memfasilitasi resolusi 4K, HDR butuh kekuatan pemrosesan yang lebih ringan. Sebagai contoh, kamu tidak perlu membeli PS4 Pro untuk mendapatkan HDR, tapi kamu butuh PS4 Pro untuk 4K. Padahal HDR memberi perbedaan yang lebih nyata, sementara 4K tidak berpengaruh besar kecuali kamu memiliki layar ukuran enam puluh inci atau lebih.

HDR | Uncharted 4


Masa depan HDR

Sama seperti pertarungan kualitas versus kuantitas dalam konteks lain, pada akhirnya dalam jangka panjang kualitas selalu menang. Resolusi layar kini sudah mulai mendekati titik saturasi, sehingga perbedaannya bagi mata manusia tidak jauh terasa. Sementara color accuracy masih memiliki banyak ruang untuk dieksplorasi.

Lebih jauh dari DCI-P3, kita sedang bergerak menuju standar masa depan yang disebut Rec. 2020. Standar ini menampilkan lebih dari 75 persen warna dalam diagram CIE 1931, namun masih belum tersedia secara luas di pasar konsumen rumahan. Kamu baru bisa mendapatkannya dalam beberapa perangkat high-end khusus, misalnya Canon DP-V3010 yang memang dibuat sebagai layar referensi warna.

Seiring perkembangan zaman, dukungan HDR akan semakin meluas ke berbagai perangkat. Kita mungkin tidak butuh dukungan 4K di layar smartphone yang kecil, namun ukuran layar tak menghalangi manfaat HDR. Sudah saatnya kita berhenti terobsesi pada jumlah piksel, dan mengalihkan perhatian kita pada konten masa depan yang lebih cerah dan berwarna-warni.

Sumber : Techinasia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here