Bos JD.ID Bicara tentang Perkembangan Bisnis serta Kerja Sama dengan Traveloka

0
597

Ikhtisar
  • JD.ID menggarap pasar Indonesia, yang merupakan pasar terbesar keduanya setelah Cina, dengan fokus menjaga keaslian produk di platform e-commerce mereka.
  • Pembangunan gudang di kota-kota besar yang strategis, seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, juga dilakukan demi memangkas biaya dan waktu pengiriman barang ke konsumen.
  • Ke depannya, JD.ID hendak bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengintegrasikan berbagai layanan selain e-commerce dalam platform mereka. Salah satunya adalah pemesanan tiket pesawat yang telah terjalin dengan Traveloka.

Ada dua e-commerce raksasa di Cina yang terus bersaing untuk memperebutkan pasar dan keuntungan selama 2017, yaitu Alibaba dan JD. Kompetisi kedua perusahaan tersebut tak hanya berlangsung di negara asal mereka, namun telah menyebar ke negara lain, termasuk Indonesia.

Di tanah air, Alibaba telah menghadirkan situs AliExpress sejak beberapa tahun lalu. Tak cukup dengan itu, perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma tersebut pun telah mengakuisisi Lazada di tahun 2016 dan berinvestasi pada Tokopedia di tahun 2017 ini demi memperkuat pengaruh mereka. Kedua startup tersebut kini telah berstatus Unicorn (mempunyai valuasi di atas US$1 miliar), serta mempunyai basis pelanggan yang sangat besar di Indonesia.

Pesaing mereka, JD, cenderung mengambil jalan berbeda. Mereka lebih memilih untuk membuat entitas lokal bernama JD.ID sejak November 2015 dibanding berinvestasi kepada startup lain. Untuk melakukan hal tersebut, mereka bekerja sama dengan perusahaan investasi tanah air, Provident Capital.

JD memang sempat dikabarkan akan memberi investasi kepada Tokopedia. Namun justru Alibaba, pesaing besar mereka, yang mendapat kesempatan tersebut. Mereka akhirnya fokus pada pengembangan JD.ID, yang saat ini menurut mereka terus tumbuh dengan cepat.

Pendapatan (revenue) kami di bulan November 2017 kemarin bahkan bisa menyamai pendapatan kami sepanjang tahun 2016. Daily Active Users (DAU) kami naik 10 kali lipat dibanding tahun lalu. Saya tidak bisa menyebutkan secara pasti berapa total transaksi yang kami layani di tahun 2017, namun jumlahnya mencapai beberapa juta transaksi,” ujar Presiden Direktur JD.ID Zhang Li.

Sebagai informasi, yang dimaksud JD.ID dengan pendapatan (revenue) adalah total nilai transaksi dari barang-barang yang mereka jual sendiri, di luar barang-barang yang dijual oleh para merchant.

Trust, trust, trust

JD Dijamin Ori

JD.ID menjalankan dua model bisnis yang berbeda. Sebagian besar produk yang mereka jual, sekitar sembilan puluh persen, merupakan produk yang mereka miliki sendiri (business-to-consumer/B2C). Sisanya merupakan produk yang dimiliki oleh para merchant yang bekerja sama dengan mereka (marketplace/C2C). Konsep ini serupa dengan yang dijalankan oleh Lazada.

Indonesia merupakan pasar yang bagus dan menjanjikan, sehingga apapun model bisnis yang dijalankan sebuah startup, baik itu B2C ataupun marketplace, tetap ada peluang untuk sukses. Setiap model bisnis tentu membawa nilai yang berbeda pula. Kami sendiri lebih fokus pada model bisnis B2C, karena kami ingin menjadi e-commerce yang dipercaya oleh masyarakat

Zhang Li, Presiden Direktur JD.ID

“Kepercayaan” merupakan hal yang terus diulang-ulang oleh Li dalam wawancara dengan saya siang hari itu. Hal ini seperti menegaskan bahwa mereka memang benar-benar fokus mengejar misi tersebut. Model bisnis B2C merupakan sesuatu yang mereka rasa tepat.

Dengan menjual barang yang mereka miliki sendiri tentu akan lebih mudah bagi JD.ID untuk melakukan kurasi, serta menjaga kualitas barang di platform mereka. Namun di sisi lain, model bisnis tersebut membuat jumlah produk yang mereka miliki cenderung lebih sedikit dibanding marketplace seperti Tokopedia atau Shopee.

Sejalan dengan misi itu, sejak awal September 2017 JD.ID pun meluncurkan kampanye yang bertajuk #DijaminOri. Hal ini berbeda dengan e-commerce lain yang cenderung menonjolkan potongan harga atau potongan ongkos kirim.

Berinvestasi sekarang, rengkuh keuntungan kemudian

Zhang Li JD

Zhang Li, Presiden Direktur JD.ID

Selain dengan menonjolkan kualitas barang, JD.ID pun ingin menarik kepercayaan masyarakat dengan cara menyajikan proses pengiriman yang cepat. Itulah mengapa mereka memutuskan untuk menghadirkan gudang di Jakarta, Surabaya, Pontianak, dan Medan. Saat ini, mereka tengah membangun sebuah gudang baru di Makassar.

Menurut Li, keputusan untuk membuat gudang di lima kota tersebut bukan karena adanya banyak pesanan yang datang dari sana. Penentuan kota-kota tersebut lebih didasarkan pada posisi geografis yang strategis sebagai pusat pengiriman barang.

Pengantaran barang dengan cepat mustahil dilakukan apabila gudang kami berjarak sangat jauh dari alamat tujuan. Itulah mengapa kami memutuskan untuk langsung membangun gudang, tanpa menunggu adanya pesanan dari pengguna. Kami percaya bahwa bila kami menghadirkan layanan yang baik, pengguna akan datang dengan sendirinya

Zhang Li, Presiden Direktur JD.ID

Investasi tersebut tak sebatas untuk pembuatan gudang, namun juga pada sumber daya manusia yang mengelola gudang tersebut. Saat ini JD.ID mempunyai total 1.400 karyawan, 1.100 di antaranya bekerja untuk mengelola gudang dan layanan logistik mereka, J-Express.

Untuk mengurangi beban biaya tersebut, JD.ID telah membuka layanan logistik dan gudang mereka untuk digunakan oleh para pemain e-commerce lain.

Lebih lanjut tentang menghadirkan layanan yang terpercaya, JD.ID bahkan menyatakan tengah berpikir untuk membuat layanan pembayaran sendiri. “Untuk pembayaran, kami terbuka untuk kolaborasi dengan para pemain lain, termasuk membuat layanan pembayaran kami sendiri. Semuanya kembali ke masyarakat, apakah mereka membutuhkan hal tersebut atau tidak,” ujar Li.

Kerja sama dengan portofolio JD

JD.id Traveloka

Sejak awal berdiri di Indonesia, JD.ID menyatakan bahwa mereka berniat untuk menghadirkan berbagai macam kebutuhan masyarakat. Tak hanya menjual produk fisik, mereka pun telah berpikir untuk menghadirkan produk digital seperti tiket pesawat, tiket bioskop, pulsa seluler, hingga tiket masuk lokasi wisata.

“Namun segala sesuatu tentu membutuhkan waktu. Karena itu kami tidak bisa menghadirkannya sekaligus sejak hari pertama, dan memutuskan untuk meluncurkannya secara bertahap,” jelas Li.

Itulah mengapa JD.ID akhirnya bisa melihat fitur isi ulang pulsa seluler dan pembelian paket data di platformnya. Mereka pun telah bekerja sama dengan CGV untuk menghadirkan layanan pembelian tiket bioskop.

JD.ID pun meluncurkan layanan bernama JD Flight baru-baru ini, yang memungkinkan para penggunanya untuk membeli tiket pesawat. Menariknya, layanan tersebut didukung oleh Traveloka, startup Unicorn tanah air yang memang baru saja mendapat pendanaan dari JD.

Saat berdiskusi tentang pendanaan, kami juga membicarakan soal kemungkinan untuk mengintegrasikan layanan, yang kini terwujud dengan kehadiran JD Flight

Zhang Li, Presiden Direktur JD.ID

JD.ID tidak menutup kemungkinan untuk memasukkan layanan lain dari Traveloka, seperti pemesanan hotel dan tiket masuk tempat wisata, atau bahkan mengintegrasikan layanan mereka dengan GO-JEK, yang juga telah mendapat investasi dari JD. “Selama itu berguna untuk konsumen, kami pasti ingin menghadirkannya. Namun semuanya tentu butuh waktu.”

Fokus untuk Indonesia

JD Perbandingan Logo

Perbedaan maskot JD di Indonesia (kiri) dan di Cina (kanan)

Indonesia merupakan pasar terbesar kedua untuk JD, setelah Cina. Itulah mengapa Indonesia merupakan satu-satunya negara asing di mana JD mempunyai sebuah tim operasional khusus. “Di negara-negara lain, kami biasanya hanya menjalankan bisnis cross border yang terpusat di Cina,” jelas Li.

Karena besarnya potensi di tanah air, JD.ID berusaha keras untuk menyesuaikan diri mereka dengan masyarakat Indonesia. Mereka bahkan sampai mengubah logo mereka. Di Cina, mereka menggunakan maskot berbentuk anjing, sedangkan di Indonesia mereka menggunakan maskot berbentuk kuda.

Kami berusaha untuk beradaptasi dengan kearifan lokal. Terkait maskot, kami memutuskan untuk mengumpulkan ide-ide kreatif dari para pelanggan kami, dan memilih yang terbaik sebagai pemenang.

Zhang Li, Presiden Direktur JD.ID

Meski begitu, secara umum Li melihat tidak ada perbedaan yang jauh antara masyarakat Indonesia dan Cina. Mereka sama-sama menginginkan barang berkualitas baik, pengiriman cepat, dan layanan purnajual yang mudah. Jenis produk yang banyak dibeli oleh masyarakat Indonesia dan Cina pun relatif sama, yaitu perangkat elektronik, fesyen, dan FMCG.

“Kami mungkin akan melihat perbedaan tersebut ketika kami mulai meluncurkan berbagai lini produk baru, yang akan kami lakukan nanti di tahun 2018,” pungkas Li.

Sumber : Tech in Asia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here