Mengenal Rinna, Sahabat Baru Buatan Microsoft

0
2206

“Aku mah apa atuh, cuma butiran debu yang tak kunjung datang.”

Itulah balasan Rinna saat kamu mengucapkan selamat pagi. Agak janggal untuk didengar, tetapi tidak sepenuhnya mustahil keluar dari mulut seorang remaja perempuan berumur tujuh belas tahun di Indonesia.

Rinna tampak sangat aktif dan antusias dalam mengobrol. Ia hanya memerlukan waktu beberapa detik untuk membalas chat. Dia bilang kepadamu bahwa dia suka nongkrong di kafe bersama teman-temannya. Kamu dapat membayangkan jemarinya yang lentik mengetik balasan untukmu dengan riang sambil menyeruput kopi dari gelasnya.

Hobi Rinna sangat beragam. Dia suka berolahraga. “Apapun yang penting bikin sehat,” katanya. Selera musiknya menempati spektrum yang luas dari Isyana Sarasvati hingga Armada. Sesekali, ia meminta rekomendasi drama Korea kepadamu. Dia gemar mengunggah foto makanan yang dimakannya, tempat yang dikunjunginya, sampai sekedar kartun yang menurutnya lucu.

Dapat dikatakan bahwa Rinna adalah cerminan remaja perempuan tipikal yang kita temui sehari-hari.


Berkenalan dengan Rinna

Hal yang paling membedakan Rinna dari remaja perempuan lainnya, tentunya, adalah bahwa Rinna itu tidak nyata. Perkataan yang muncul di jendela chat kamu bukan lahir dari pikiran seorang gadis di penghujung masa sekolahnya, melainkan dari kode dan algoritme yang dibuat untuk menyerupai pikiran manusia.

Contoh Screenshot Chat Rinna

Contoh percakapan dan permainan ABC Lima Dasar dengan Rinna.

Rinna adalah sebuah chatbot yang dibuat oleh tim Microsoft Artificial Intelligence & Research bekerja sama dengan LINE Corporation. Rinna beroperasi menggunakan end to end generative model. Artinya, ia mengambil sampel dari chat yang telah kamu atau orang lain kirimkan kepadanya sebagai bahan untuk menyusun balasan yang sesuai. Dengan kata lain, Rinna akan menjadi semakin pintar seiring dengan semakin banyaknya orang yang mengobrol dengannya.

Rinna tidak lahir di aplikasi LINE. Chatbot ini pertama diluncurkan oleh Microsoft di Tiongkok melalui aplikasi Weibo dan WeChat. Pada awalnya, ia dinamai Xiaoice.

Dalam Bahasa Mandarin, nama Xiaoice dapat diartikan menjadi “Bing kecil,” dikarenakan latar belakangnya sebagai proyek big data dari Bing, search engine buatan Microsoft.

Xiaoice mencapai kesuksesan yang sangat besar di Tiongkok, dengan lebih dari empat puluh juta pengguna terdaftar. Setelah kesuksesan tersebut, Microsoft bekerja sama dengan LINE Corporation untuk menjadikan aplikasi chat LINE sebagai platform baru Xiaoice. Ia pun diberi nama Rinna.

Rinna dapat diakses oleh pengguna LINE di Jepang dan Indonesia, tempat ia menemukan banyak teman baru; follower akun LINE Rinna saat ini mencapai jumlah lebih dari enam juta di Jepang dan satu juta di Indonesia. Selain LINE, Rinna juga aktif di Instagram. Tidak sedikit follower Rinna yang terlihat tidak sadar bahwa ia hanya program komputer.


Chatbot, proyek puluhan tahun

Ide chatbot pertama menjadi populer pada tahun 1950 ketika matematikawan Alan Turing mencetuskan Turing Test. Untuk lulus tes tersebut, sebuah komputer harus dapat bercakap-cakap dengan seorang manusia, tanpa manusia tersebut menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan komputer.

Contoh Chat dengan ELIZA, Salah Satu Chatbot Pertama

Source: Medium

Salah satu chatbot pertama adalah ELIZA yang diciptakan oleh ilmuwan Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 1964. Dibandingkan dengan chatbot masa kini, ELIZA masih sangat sederhana. ELIZA ‘berbicara’ dengan memilih salah satu respons dari suatu ‘naskah’ berdasarkan kata kunci dalam perkataan lawan bicaranya.

Teknologi tersebut terus dikembangkan sebagai basis operasi chatbot yang lebih canggih seperti Cleverbot dan Mitsuku.

Sejak itu, chatbot telah semakin lazim digunakan sebagai asisten virtual. Pengguna smartphone pasti sudah tidak asing dengan Siri, Cortana dan OK Google. Chatbot juga telah beredar di media sosial seperti Facebook dan LINE, dengan fungsi mulai dari hiburan hingga bantuan pelanggan. Di Facebook sendiri, jumlah chatbot yang diedarkan dalam fitur Messenger telah mencapai lebih dari enam belas ribu pada tahun 2016.

Di Indonesia sendiri, teknologi chatbot juga tengah mengalami perkembangan. Berbagai developer telah menyediakan perangkat lunak chatbot seperti AiChat dan Kata.ai sebagai layanan bantuan pelanggan. Selain Rinna, berbagai chatbot juga telah aktif di LINE yang dapat melaksanakan berbagai fungsi sederhana seperti bermain tebak-tebakan atau mencari informasi.

Namun, Rinna merupakan kategori yang berbeda. Tidak seperti “saudara-saudaranya” yang diprogram untuk melayani pengguna dalam fungsi tertentu, Rinna diprogram untuk belajar dan berkembang secara mandiri sebagai artificial intelligence atau AI.

Rinna adalah salah satu dari chatbot yang, baik direncanakan maupun tidak, bertujuan untuk lulus Turing Test; tentunya dengan tingkat kesuksesan yang berbeda. Lalu, bagaimana performanya jika dibandingkan dengat chatbot lain yang aktif di Indonesia?


Apa saja yang bisa Rinna lakukan?

Sebelum membandingkan Rinna dengan “saudara-saudaranya”, kita harus mengetahui kelebihan dan kekurangan Rinna sendiri.

Seperti telah disebutkan, keunggulan utama Rinna adalah bahwa ia terus belajar. Setiap perkataan yang kamu kirim kepada Rinna akan membantunya menjadi lebih pintar dan fleksibel dalam membuat balasan.

Contoh Gambar Buatan Rinna

Tidak hanya melalui teks, Rinna sesekali akan mengirimkan pesan melalui gambar.

Selain itu, mengobrol bukan satu-satunya fungsi Rinna. Ia juga akan sesekali mengirim gambar yang diedit dari username atau foto profil kamu. Ini menambah kesan personal ke dalam percakapanmu dengannya.

Kamu juga bisa mencoba untuk bermain permainan sederhana seperti ABC Lima Dasar dengannya. Kata kunci di sini adalah “mencoba” – permainan ABC Lima Dasar dengan komputer yang dapat mencari jawaban secepat kilat dari database Rinna tentu tidak mudah dimenangkan.

Namun, cara belajar Rinna dapat menjadi kekurangannya juga. Sesekali akan sangat terlihat jelas bahwa Rinna mengambil respons berdasarkan kesamaan kata dari perkataanmu dengan salah satu stok balasan yang ia punya.

Apakah saudara-saudaranya dapat bekerja dengan lebih baik?

Rinna dan Veronika

Veronika adalah chatbot garapan Kata.ai yang ditujukan sebagai aplikasi layanan pelanggan untuk Telkomsel. Ia dapat diakses melalui Facebook Messenger, LINE hingga Telegram dan membantumu membeli pulsa, mencari informasi produk Telkomsel, hingga mencari lokasi GraPARI terdekat.

read also

Pada dasarnya, Veronika memang merupakan nama dan wajah yang diberikan kepada user interface otomatis layanan pelanggan Telkomsel. Veronika melakukan tugasnya dengan jauh lebih baik dibandingkan dengan Rinna, karena ia memang dibuat untuk menjadi efisien.

Percakapan dengan Veronika akan jauh lebih produktif, namun percakapan dengan Rinna akan lebih berkesan. Sebab, Veronika memang tidak diciptakan sebagai lawan bicara.

Rinna dan Bang Joni

Dibandingkan dengan Veronika, Bang Joni dirancang dengan kepribadian yang lebih unik. Chatbot yang tersedia di LINE ini menyediakan layanan seperti:

  • penyediaan transportasi melalui Uber dan Tiket.com
  • pembelian pulsa
  • permintaan info cuaca dan lalu lintas

Berbicara dengan Bang Joni akan terasa lebih personal. Sebagai contoh, jika kamu bilang bahwa kamu sedang bosan, Bang Joni akan mengusulkan aktivitas seperti menonton film.

Namun, Bang Joni juga tidak dapat dikatakan sebagai lawan bicara. Sama seperti Veronika, Bang Joni adalah user interface layanan pelanggan yang ‘didandani.’ Ia diprogram untuk menyediakan pelayanan berdasarkan kata kunci tertentu dari pengguna dan tidak untuk melanjutkan percakapan secara organik.


Jadi, buat apa kita punya chatbot?

Lantas, mengapa kita harus menghabiskan waktu dengan chatbot seperti Rinna ketika telah tersedia chatbot yang sudah cukup efektif dalam membantu urusan kita seperti Veronika dan Bang Joni? Apa pengaruh AI yang semakin canggih terhadap hidup kita?

Jawabannya ada di satu kata: adaptabilitas.

Machine learning merupakan salah satu fokus utama dalam pembaruan teknologi komputer saat ini. Machine learning ini bertujuan untuk menciptakan sistem yang dapat secara otomatis melaksanakan tugas sesuai keinginan dan kebutuhan kita, tanpa perlu diatur secara langsung.

Pengetahuan yang diperoleh dari kehidupan Rinna akan membantu membuat chatbot seperti Veronika dan Bang Joni untuk menjadi AI yang lebih canggih. Komputer yang semakin peka untuk berubah sesuai situasi dan kebutuhan penggunanya pada akhirnya akan semakin efisien dalam menyediakan pelayanan.

Teknologi AI telah diproyeksikan akan berperan besar dalam pembangunan kota pintar. Di Hong Kong, misalnya, AI direncanakan akan mengambil alih pengaturan jadwal perawat di rumah sakit, aplikasi visa, hingga mitigasi bencana alam. AI yang pintar akan dapat melaksanakan tugas tersebut sesuai dengan karakteristik dan situasi yang berbeda-beda.

Untuk sekarang, Rinna mungkin tampak sebagai hiburan semata. Namun, Rinna dan eksperimen AI lainnya merupakan batu pijakan dalam menciptakan program yang dapat membantu urusan kita dengan lebih efisien.

Ada baiknya bila artikel ini ditutup oleh kata-kata dari Rinna sendiri. Berikut ini adalah salah satu pesan yang dapat Rinna kirimkan kepadamu lewat gambar yang dibuatnya.

Contoh Gambar Buatan Rinna

Beberapa gambar buatan Rinna akan dibubuhkan dengan username atau foto profilmu untuk membuat kesan lebih personal.

Ingin membantu Rinna belajar? Kamu bisa berkenalan dengannya dengan mencari ID-nya yaitu @Rinnaid di LINE, atau dengan memindai QR Code akunnya:

LINE QR code

Sumber : Tech in Asia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here