Pentingnya Peran Manajer terhadap Nasib dan Kepuasan Karyawan

0
1606

Ikhtisar
  • Bagi kebanyakan karyawan, orang terpenting di tempat kerjanya bukanlah founder ataupun CEO, melainkan manajer yang menjadi atasannya langsung.
  • Marcus Buckingham dan Curt Coffman, penulis buku First, Break All the Rules, berpendapat bahwa tugas utama manajer adalah menjadi mediator antara kepentingan perusahaan dan karyawan.
  • Manajer harus mampu menempatkan orang yang tepat di pekerjaan yang sesuai, serta menjaga bahwa kekurangan masing-masing karyawan tidak menuai masalah dalam pekerjaannya.

Banyak entrepreneur dan founder percaya bahwa kepuasan karyawan adalah kunci produktivitas perusahaan. Kepuasan ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari kesejahteraan, fasilitas kesehatan, aturan kantor, korelasi pekerjaan dengan minat, dan lain-lain. Tapi dari semua itu, faktor terpenting adalah manajer.

Manajer, lebih tepatnya manajer/atasan langsung (immediate manager), sangat berperan menentukan kepuasan karyawan. Sebuah riset dari Gallup bahkan menyimpulkan bahwa atasan yang buruk adalah alasan utama seseorang meninggalkan pekerjaannya. Bagaimana sebaiknya manajer bersikap agar karyawan setia pada perusahaan?

Manajer adalah seorang mediator

Meski bukan pejabat tertinggi, manajer langsung bisa jadi orang terpenting di perusahaan bagi seorang karyawan. Ini karena ia menentukan seperti apa kondisi lingkungan kerja di tim yang ia bawahi.

Manajer langsung adalah orang yang mengubah aturan di atas kertas menjadi praktik nyata. Ia menentukan kapan karyawan bisa naik pangkat, berapa jumlah kenaikan gaji, hingga dalam kasus terburuk, siapa yang harus dipecat. Tidak berlebihan bila kita bilang bahwa nasib karyawan ada di tangan atasan langsungnya.

Dengan tanggung jawab sebesar ini, seorang manajer harus sadar apa tugas yang sebenarnya ia emban. Menurut Marcus Buckingham dan Curt Coffman dalam buku First, Break All the Rules berkata bahwa tugas utama manajer sebetulnya bukanlah memimpin. Manajer bukanlah seorang leader, tapi mediator.

Manajer justru melihat ke dalam perusahaan. Ia memahami sumber daya yang tersedia, kemudian mengeluarkan potensinya secara maksimal.

Apa perbedaannya? Seorang leader harus dapat melihat ke luar perusahaan. Ia menatap ke depan, mencari visi, kemudian mewujudkannya. Sebaliknya, manajer justru melihat ke dalam perusahaan. Ia memahami sumber daya yang tersedia, kemudian mengeluarkan potensinya secara maksimal.

Discussion | Photo 1

Tugas utama manajer adalah berkomunikasi | Sumber Gambar: pxhere

Manajer harus paham bahwa baik perusahaan dan karyawan sama-sama memiliki kebutuhan. Tugasnya sebagai mediator adalah memfasilitasi komunikasi kedua pihak, kemudian mencari titik temu supaya perusahaan dan karyawan sama-sama merasa puas.

Pahami perbedaan talenta tiap orang

Untuk menjalin mediasi yang baik, pertama-tama kita harus paham bahwa setiap orang punya karakteristik berbeda. Ini berlaku baik bagi para manajer maupun para karyawan di bawah mereka.

Tugas manajer adalah menempatkan orang yang tepat di tugas yang tepat.

Karakteristik diri seseorang ada yang berperan sebagai “bakat” dan ada yang berperan sebagai kekurangan atau “nonbakat”. Maksudnya di sini bukan keahlian sejak lahir yang membuat orang bisa jadi ahli tanpa kerja keras, tapi bakat dalam artian perilaku yang terjadi berulang dan dapat diterapkan secara produktif.

Bakat mempengaruhi tiga hal, yaitu:

  1. Motivasi (striving talent),
  2. Cara berpikir (thinking talent), dan
  3. Komunikasi (relating talent).

Manusia tidak bisa dipaksa mengikuti template yang seragam. Untuk mencapai performa maksimal, bakat seseorang harus selaras dengan tuntutan pekerjaannya.

Senior Employee | Photo 1

Kemampuan teknis pun butuh jam terbang tinggi agar bisa sempurna | Sumber Gambar: Keesler Air Force Base

Tugasnya adalah menempatkan orang yang tepat di tugas yang tepat. Dengan demikian, bakatnya bisa semakin berkembang. Manajer juga perlu menahan agar kekurangan alias sifat “nonbakat” karyawan tidak menjadi semakin parah.

Menentukan nasib karyawan sejak perekrutan

Ketika memilih calon karyawan, jangan hanya mempertimbangkan job description. Perhatikan juga kualitas bakat, baik dari segi striving, thinking, maupun relating. Artinya, selain menguji kemampuan teknis, manajer juga harus mempertimbangkan gaya komunikasi, gaya bekerja, serta kecocokan calon dengan tim yang akan ia masuki.

Untuk menilai bakat calon secara menyeluruh, kuncinya ada pada proses wawancara yang rileks. Ketika wawancara kaku, bisa jadi calon karyawan tegang sehingga tidak bisa memunculkan kemampuan sesungguhnya. Kita juga bisa mendorong kepribadian calon muncul ke permukaan bila suasana wawancara rileks.

Manajer harus mempertimbangkan gaya komunikasi, gaya bekerja, serta kecocokan dengan tim.

Setelah karyawan diterima dan memiliki jam terbang cukup, seorang manajer mungkin akan mempertimbangkan agar karyawan tersebut naik pangkat. Di sini kita harus bersikap hati-hati. Ingat, karyawan yang unggul di suatu posisi belum tentu unggul di posisi yang lebih tinggi.

Jangan terpaku pada jenjang karier konvensional. Jangan memaksakan seorang karyawan untuk menduduki jabatan manajerial hanya karena dia punya jam terbang tinggi. Bagaimana bila ternyata ia tidak punya kualitas kepemimpinan yang baik? Menaikkan jabatan seseorang bisa jadi malah berdampak buruk baginya.

Old Artist | Photo 1

Imbalan harus sesuai dengan kinerja, bukan hanya posisi | Sumber Gambar: Wikimedia Commons

Sebagai gantinya, terapkanlah sistem di mana gaji dan prestise tersebar di seluruh perusahaan secara seimbang. Artinya, orang dengan posisi “rendah” bisa menerima gaji lebih tinggi daripada manajer atau team leader, bila memang kinerjanya memuaskan.

Memahami keunikan karakter artinya menyediakan jenjang karier yang unik pula bagi tiap karyawan. Sebagai contoh, Programmer dengan jam terbang tinggi tidak harus naik jabatan menjadi Chief Technology Officer. Ia bisa saja menjadi Senior Programmer, tentunya dengan tanggung jawab dan imbalan yang disesuaikan.

Beri kebebasan yang bertanggung jawab

Meski tiap orang punya talenta berbeda, bukan berarti kita boleh seenaknya. Perusahaan juga punya kepentingan, jadi karyawan harus memenuhi suatu standar minimum demi kepuasan konsumen. Misalnya dalam hal etos kerja, keamanan, kemampuan bekerja sama, dan sebagainya.

Menuntut pemenuhan standar adalah hal yang wajar, bahkan harus. Setelah standar itu terpenuhi, barulah kamu berikan fleksibilitas lebih tinggi kepada para karyawan. Ini artinya kamu memberikan kebebasan tapi tetap menuntut mereka bertanggung jawab.

Di era modern ini, jurang antara manajer dengan karyawan telah menjadi semakin sempit. Atasan bukan berarti lebih hebat dari bawahan. Mereka hanya berbeda dari sisi tugas, yang tentunya harus disesuaikan dengan bakat dan kekurangan masing-masing.

Happy People | Photo 1

Karyawan yang bahagia adalah karyawan yang setia | Sumber Gambar: pxhere

Kesetaraan ini artinya manajer juga harus mau belajar dari karyawan yang ada di bawahnya. Kenali bawahan yang memiliki produktivitas tinggi, kemudian cari tahu apa kunci keberhasilannya itu.

Ketika ada karyawan yang melakukan kesalahan, jangan sibuk menyalahkan apalagi mempermalukannya. Sebaliknya, berusahalah untuk menemukan jalan keluar bersama. Kenali apa penyebab masalah itu, dan bagaimana agar tidak terjadi lagi di masa depan.

read also

Manajer yang baik harus mendukung dan mengayomi karyawan. Tapi di sisi lain, ia juga harus tahu kapan waktunya melepas karyawan pergi. Ini belum tentu artinya si karyawan itu adalah pekerja yang buruk. Kesalahan justru ada di pihak manajer. Ia merekrut orang yang salah, padahal mungkin saja orang itu bisa melejit di tempat lain.


Bila kamu menjadi manajer, kamu bertanggung jawab atas hajat hidup orang banyak. Jadi lakukan pekerjaanmu dengan serius. Ingat, tugas utamamu adalah mencari titik temu agar kebutuhan perusahaan dan karyawan sama-sama terpenuhi. Ini bukan tugas yang ringan.

Prinsip terpenting ketika menjadi manajer yang memayungi orang lain adalah untuk selalu memperlakukan bawahan sebagai manusia. Manusia bukan mesin yang bisa diprogram sesuai keinginan kita. Berpikirlah fleksibel. Kemudian letakkan tiap orang pada tempat yang tepat agar mereka merasa puas layaknya tinggal di rumah sendiri.

Sumber: Blinkist, Techinasia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here