3 Hal tentang Kultur Perusahaan yang Saya Pelajari saat Bekerja di Amazon

0
683

Ikhtisar

  • Setidaknya ada tiga hal yang saya pelajari saat bekerja di Amazon, antara lain menciptakan prinsip kepemimpinan, merekrut karyawan dengan tepat, serta membangun ekosistem internal yang berkembang dengan cepat.

Saya telah bekerja di banyak organisasi di mana kultur perusahaan diringkas menjadi beberapa kalimat yang terpampang pada tanda pengenal. Saya tidak ingat satu pun dari kalimat-kalimat ini.

Kecuali untuk Amazon.

Mereka memiliki 14 prinsip panduan seperti “Customer Obsession” (terobsesi pada pelanggan), “Ownership” (rasa kepemilikan), dan “Disagree and Commit” (tidak setuju namun tetap berkomitmen), yang kemudian diaplikasikan dalam setiap aspek perusahaan.

Kultur yang kuat dan dinamis merupakan landasan dari sebuah organisasi yang sukses. Saat bekerja di Amazon Web Services (AWS), saya melihat bagaimana kultur dapat mendorong pemahaman kolektif seperti apa perusahaan ini. Kultur perusahaan juga membantu kamu untuk terus maju.

Saya melihat, pemikiran ini mulai tercermin di ekosistem startup di Asia Tenggara, di mana semakin banyak perusahaan muda menentukan dan mengartikulasikan kultur mereka sejak dini. Kultur inilah yang dijadikan mesin pertumbuhan.

Nah, inilah yang saya pelajari di AWS.


Ciptakan prinsip kepemimpinan

kultur perusahaan | kepemimpinan

Sumber: Strengthscopeus

Keberhasilan Amazon sebagian besar terletak pada “ritual” mereka dalam melakukan berbagai hal. Dalam membimbing karyawan mereka sehari-hari, mereka menyingkirkan proses dan menggantikannya dengan prinsip kepemimpinan.

Dalam rapat, kamu akan mendengar orang mengatakan, “Dari sudut pandang obsesi pelanggan, kita harus melakukan ini.” Dalam sebuah laporan proyek, kamu akan membaca laporan penghematan dan bagaimana sebuah tim telah bekerja keras.

Kesuksesan kamu dalam menjalani prinsip-prinsip ini juga penting untuk menilai performamu. Tentunya, kamu akan mendapatkan poin jika mencapai target, tapi kamu juga akan kehilangan poin jika kamu tidak melakukannya dengan cara “Amazonian” yang sebenarnya. Prinsip-prinsip tersebut mendefinisikan kultur dengan jelas, serta memandu cara karyawan melakukan segala sesuatu.

Saya melihat contoh betapa pentingnya memakai prinsip ini sejak awal rapat direksi dengan Modalku, sebuah platform pinjaman digital di Asia Tenggara. Banyak waktu habis untuk mendiskusikan topik yang itu-itu saja—sering kali tanpa tujuan yang jelas.

Aha moment datang saat kita duduk bersama untuk mendengar pertanyaan: siapakah kita?

Para co-founder, Kelvin Teo dan Reynold Wijaya, dipicu untuk menangkap, menyandikan, dan mengartikulasikan kultur mereka, hingga bisa menyatukan tim dan membantu mereka membuat keputusan.

Modalku sebenarnya sudah memiliki kultur yang unik, hanya perlu diperjelas. Mereka menghabiskan waktu enam bulan sebelum mendapatkan lima prinsip utama yang mendefinisikan kultur perusahaan mereka.

Teo baru-baru ini mengatakan bahwa latihan ini adalah investasi paling berharga mereka sejauh ini, apalagi mengingat bahwa tim mereka tersebar di tiga negara: Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Tim sekarang berbicara bahasa yang sama, rasa persahabatan pun bertambah, dan retensi karyawan lebih tinggi.

Kultur bukanlah sekadar hal yang “lembut”. Kultur bisa memberikan nilai tambah yang berarti. Startup yang memiliki kultur kuat sejak awal bisa memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi ke depannya.


Rekrutlah talenta dengan benar

rekrut karyawan

Sumber: Independent

Merekrut orang yang tepat sangatlah penting untuk membangun kultur. Di hari kedua saya bekerja di AWS, saya ikut lokakarya sehari penuh tentang “Membuat Keputusan Perekrutan yang Hebat.” Saya pun sadar mengapa hal ini diprioritaskan. Amazon tahu bahwa kamu hanya bisa menjadi perusahaan legendaris jika kamu merekrut talenta dengan baik.

Setiap kandidat diwawancarai oleh setidaknya enam orang. Hanya ada satu orang yang akan mewawancarai untuk menyaring keahlian dan keterampilan calon karyawan. Lima orang pewawancara lainnya ditugaskan untuk bertanya seputar prinsip yang saya sebutkan di atas.

Masing-masing dari mereka diberikan 2 dari 14 prinsip, dan mereka hanya akan fokus bertanya tentang dua prinsip tersebut kepada sang kandidat. Proses perekrutan yang terstruktur ini menunjukkan bahwa kultur yang tepat sangatlah penting, bahkan saat dibandingkan aspek lainnya.

Tentunya, ini bukan tentang mencari orang yang sama persis. Karyawan Amazon datang dari segala macam latar belakang. Intinya adalah merekrut sesuai dengan prinsip kepemimpinan yang nantinya bisa mendukung kultur perusahaan.

Pada saat yang sama, pikiran yang terbuka dan jaringan yang luas adalah kunci untuk menarik talenta dan keterampilan baru yang dibutuhkan perusahaan untuk berkembang.

Hal ini penting terutama saat startup ingin mengelola tingkat pertumbuhan dan skala baru. Carousell merupakan contoh yang bagus di sini. Mobile marketplace yang berbasis di Singapura ini dijalankan oleh sekelompok co-founder.

Mereka adalah teman dekat (hampir seusia) yang memiliki latar belakang yang sama, dan berasal dari universitas yang sama. Startup ini tumbuh dengan cepat. Namun, pada satu titik mereka menyadari bahwa mereka perlu keterampilan, pengalaman, dan sudut pandang yang lebih beragam.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah merekrut seorang vice president yang berpengalaman untuk mendorong ekspansi internasional. Mereka melihat dampak langsung pada pertumbuhan bisnis dan dengan cepat mulai merekrut pemimpin senior lainnya yang berpengalaman di berbagai pasar. Mereka melihat dampak di seluruh aspek perusahaan, mulai dari teknologi hingga produk, keuangan, dan pertumbuhan.

Startup tahap awal, terutama yang dimulai dari asrama sebuah universitas, biasanya dikelola oleh “orang-orang yang terlihat seperti saya.” Pendiri yang pintar memperbaikinya dengan merekrut talenta dengan cara yang benar.


Buat ekosistem internal yang beriterasi dengan cepat

Tim Growth | Featured Image

Memelihara kultur inovatif adalah kunci bagi perusahaan mana pun. Seperti yang dikatakan Jeff Bezos, “Penemuan yang berhasil mengharuskan kamu untuk meningkatkan eksperimen.”

Kompleksitas dan interdependensi adalah musuh terbesar inovasi. Menciptakan unit kecil dan independen yang dapat beriterasi dengan cepat bisa membantu kamu untuk memperkuat kultur perusahaan yang inovatif.

Banyak perusahaan, baik besar maupun kecil, sekarang berbicara tentang micro service. Hal ini memungkinkan tim kecil dan otonom untuk mengembangkan dan menerapkan layanan secara independen, mengintegrasikan aplikasi tersebut dengan penawaran yang lebih besar melalui iterasi dan penyempurnaan produk yang terus-menerus. Di Amazon, keseluruhan organisasi terdiri dari tim kecil dengan kolaborasi lepas yang disebut “two pizza teams.”

Baru-baru ini saya bertemu dengan sebuah startup di Singapura yang menggunakan cara ini untuk growth hacking. Sang pendiri menyadari bahwa di antara target pelanggannya, tiap bagian perusahaan yang berbeda menggunakan bagian aplikasi yang berbeda. Jadi, dia memecah aplikasinya menjadi produk yang berbeda dan stafnya ke tim yang berbeda.

Ketika saya mengunjungi kantornya, tim-tim tersebut berada di lima meja yang berbeda di sebuah kantor terbuka, sebuah pengaturan yang dirancang untuk mendukung micro service. Seluruh struktur, termasuk ke pengaturan tempat duduk, dibuat untuk mendorong kolaborasi, otonomi, dan akuntabilitas tiap tim. Pelanggan pun naik seribu kali sejak strategi ini diadopsi.

Saya selalu senang bertemu pengusaha yang menjadikan kultur sebagai prioritas. Ini adalah pembeda antara perusahaan dengan ide yang keren, dan perusahaan yang dibangun untuk pertumbuhan yang pesat.

Sumber : Tech in Asia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here